Psikolog

bagaimana parenting untuk pengembangan potensi anak

By: Nirma Rohmani

Detail: – Apakah bisa mengetahui potensi anak melalui tipe kecerdasan berdasarkan multiple intelligence (kecerdasan majemuk) Howard Gardner? – Lalu bagaimana upaya parenting untuk pengembangan potensi anak? – Saya mencari di sebuah referensi paper tentang teknik parenting yang menjelaskan teknik parenting grusec untuk pelaksanaan program parenting, teknik parenting grusec tersebut yaitu teknik monitoring, pemberian rekomendasi aktivitas, memberi reward & punishment, komunikasi, dan disiplin. Dari teknik parenting grusec ini apakah bisa jika saya menggunakan teknik pemberian rekomendasi aktivitas, memberi reward & punishment, dan monitoring untuk diterapkan dalam pengembangan potensi anak? – Jadi semisal dari potensi anak saya mengetahui anak memiliki tipe kecerda asan verbal/linguistik, lalu untuk pengembangan potensi anak saya terapkan teknik pemberian rekomendasi aktivitas sesuai tipe kecerdasan verbal dengan membuat jadwal rutinitas keseharian pada anak. Setelah memberikan jadwal rutinitas, saya melakukan teknik monitoring dari tiap jadwal rutinitas yang dikerjakan oleh anak, kemudian saya akan menerapkan teknik reward & punishment apakah anak mengerjakan jadwal rutinitas dengan tuntas atau tidak. Dari perumpamaan ini bagaimana menurut dokter? -Apa saja rekomendasi aktivitas tipe kecerdasan majemuk (multiple intelligence Howard Gardner) yang dapat diterapkan pada anak usia sekolah mulai 7 tahun? - Dan untuk membuat jadwal aktivitas anak dalam kesehariannya apakah ada parameter parenting berapa lama waktu untuk anak mengerjakan kegiatan yang dijadwalkan? Jadi semisal saya mengetahui anak memiliki tipe kecerdasan linguistik lalu dari berbagai macam rekomendasi aktivitas kecerdasan linguistik yang ada saya memberi rekomendasi aktivitas pada anak untuk membuat dan membaca puisi. Kemudian saya membuat jadwal kegiatan keseharian anak, dalam sehari anak diberi jadwal membuat puisi berapa menit dan membaca puisi berapa menit. - Lalu dalam pemberian reward & punishment apakah ada aturan tertentu bagi orang tua, seperti apa saja reward & punishment tersebut?

Astrid WEN, M.Psi
Expert

Halo Mam Nirma Rohmani, terima kasih atas pertanyaannya. Saya memahami apa yang Mam rasakan saat ini. Pertanyaan Mam termasuk dalam kesehatan Anak. Mam bisa menanyakan pertanyaan tersebut kepada Psikolog dari Parenting Club, yaitu Astrid WEN M.Psi.

Menurut Astrid WEN, Multiple Intelligence dapat menjadi pedoman untuk eksplorasi minat dan potensi pada Si Kecil. Howard Gardner mengidentifikasikan ada 8 macam kecerdasan, yaitu:
1. Kecerdasan Interpersonal
2. Kecerdasan Intrapersonal
3. Kecerdasan Matematika Logika
4. Kecerdasan Naturalis (Alam)
5. Kecerdasan Spasial
6. Kecerdasan Kinestetik Tubuh
7. Kecerdasan Linguistik
8. Kecerdasan Musikal
Hingga saat ini belum ada alat tes resmi yang dikeluarkan oleh Howard Gardner, pencipta teori Multiple Intelligence, karena menurutnya susah sekali membedakan antara pilihan, minat, dan potensi pada area-area ini. Cara terbaik adalah memperhatikan dan mengamati pengalaman anak dalam menyelesaikan masalah di area-area kecerdasan ini. Misalnya dalam kecerdasan musikal, apakah anak kita menyelesaikan persoalan-persoalan yang berkenaan dengan musik secara tepat dan cepat? Atau dalam kecerdasan Interpersonal, Adakah anak kita tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan area Interpersonal? Sudah area kecerdasan mana saja anak kita mendapatkan eksplorasi? Mencoba berbagai macamkah dan spesifik atau hanya secara general? Apakah proses belajarnya berkembang dalam area tersebut? Jika ya, sangat mungkin anak kita memiliki kecerdasan dalam area kecerdasan tersebut; dan hal itu akan mendorong kita untuk terus mendukung eksplorasi anak kita pada area tersebut. Hal ini baik, tetapi jangan lupa untuk tetap memberikan waktu dan kesempatan bagi anak mencoba area kecerdasan lainnya, karena anak belajar melalui berbagai macam cara, dan untuk menemukan cara-cara penyelesaian masalah yang spesifik dan yang cocok bagi dirinya dan lingkungan ia berada, seringkali ia membutuhkan macam-macam pengalaman dan pengulangan. Untuk lebih jelas mengenai Multiple Intelligence dan melihat macam-macam contohnya Mam dapat browsing di situs resminya di http://multipleintelligencesoasis.org

Pada contoh yang Mam berikan, anak usia 7 tahun dengan kecerdasan linguistik, apakah dapat diberikan jadwal keseharian yang dapat membantu mengembangkan kecerdasan linguistiknya? Dapat dan belum ada batasan/parameter yang pasti mengenai waktu berlatihnya. Sepanjang hak anak untuk cukup makan, cukup beristirahat, belajar secara menyenangkan, dan dalam latihannya ia merasa di dengar dan dihargai akan menjadi masa-masa yang lekat, positif, dan penuh stimulasi yang baik bagi pengembangan dirinya. Untuk eksplorasi dalam area kecerdasan linguistik, bagi anak usia 7 tahun, contoh lain selain membuat puisi dan membaca puisi, Mam juga dapat mencoba membacakan buku cerita kepadanya, menanyakan ulang kembali mengenai ceritanya, meminta ia bercerita mengenai sesuatu, pergi ke toko buku, menggambar dan meminta ia menceritakan gambarnya, bermain peran menjadi tokoh-tokoh tertentu, bermain logat, memperlihatkan macam-macam etnis di dunia dan mendengarkan macam-macam bunyi bahasanya, bernyanyi mengikuti lirik, mengubah lirik berbunyi lucu, dan lain-lain. Jika melihat bahwa ternyata banyak sekali yang bisa kita lakukan untuk memberikan pengalaman kepada anak kita dalam area kecerdasan linguistik, hal pertama yang perlu kita lakukan, tarik napas, tenang, dan lakukan step by step.. menikmati momen perkembangan anak dan memberikan dia eksplorasi sesuai kemampuan dan kebutuhannya menjadi sangat penting. Sesuaikan tingkat kesulitannya di rentang ia mampu mencapainya, tidak terlalu mudah tapi tidak juga terlalu susah. Waktu-waktu pengamatan ini dapat dikatakan sebagai kegiatan monitoring. Monitoring bukan dilakukan dengan tujuan dimana ia bisa dapat reward dan dimana ia perlu punishment, tetapi hingga untuk membantu dirinya melihat sejauh mana ia mengenali kecerdasan-kecerdasannya dan ia dapat menggunakan kecerdasannya dalam berbagai konteks.

Dan kalau kita lihat secara seksama, perkembangan di satu area kecerdasan akan menarik atau membangkitkan potensi di area kecerdasan lainnya, misalnya saat anak bermain kata dengan lagu, ternyata mungkin saja anak kita dapat mengikuti nada, sehingga ternyata dia juga mempunyai potensi di area kecerdasan musikal. Sangat mungkin anak memiliki beberapa macam kecerdasan. Pada saat ia mencapai usia remaja atau dewasa muda, pengembangan macam-macam kecerdasan yang ia miliki menjadi profil kecerdasan yang unik.

Dalam memberikan reward dan punishment
• Saat ini kurang disarankan pengasuhan / proses disiplin dengan metode reward dan punishment; adapun saat ini proses disiplin yang lebih disarankan adalah penggunaan konsekuensi. Jadi bukan reward atau punishment, tetapi konsekuensi positif dan konsekuensi negatif. Bedanya apakah? Konsekuensi adalah sesuatu yang terjadi setelah pelaksanaan tingkah laku tertentu, misalnya mengenai konsekuensi positif: ia datang cepat sehingga ia masih memiliki waktu bermain; ia makan sehingga ia tidak lapar. Contoh konsekuensi negatif: ia tidak mau tidur, sehingga ia kecapaian; ia ketinggalan buku, sehingga ia tidak dapat membaca bukunya sendiri. Sedangkan reward atau punishment merupakan suatu bentuk penguatan yang dapat tidak berhubungan sama sekali dengan pelaksanaan tingkah laku tertentu, misalnya ia menurut perintah, ia diberikan uang. Antara menuruti perintah dan pemberian uang sebenarnya tidak ada kaitan langsung.
• Jika dilakukan reward, pemberian reward yang disarankan adalah dilakukan secara acak/random, dan tanpa syarat, jadi seperti pemberian hadiah. Tidak perlu mahal, tetapi berikan sesuai keinginan anak yang tercetus dari dirinya. Hal ini akan membuat anak merasa istimewa dan bersinergi dengan kita secara lebih intim.
• Punishment sebisa mungkin dihindari. Berikan notifikasi pada anak konsekuensi negatif yang ia mungkin dapatkan jika ia melakukan suatu tingkah laku. Berikan juga notifikasi pada anak konsekuensi positif yang mungkin ia dapatkan jika melakukan suatu tingkah laku, paling simpel dapat berupa pujian, misalnya, “Wah Mam senang melihat kamu membaca puisi-mu, orang yang mendengarkan puisi ini pasti akan merasa bersemangat, Mam juga merasa semangat”
• Hindari punishment yang tidak terukur, misalnya: “kamu nakal, kamu tidak boleh main Ipad lagi”. Pertanyaannya adalah: tidak boleh main Ipad sampai kapan? dan Mengapa ia tidak boleh main Ipad lagi, Nakal itu apa, nakal yang mana, secara spesifik tingkah laku yang mana? Akan lebih baik jika mengatakan, “karena kamu berebutan main Ipad dan tidak mau bergantian, hari ini Ipadnya disimpan saja. Besok bisa main lagi.”
• Hindari ancaman berupa kata-kata bahwa kita tidak sayang dia lagi. Anak jadi menuruti instruksi kita karena rasa takut ia akan ditinggal atau tidak disayang oleh kita lagi, bukan karena rasa sayang yang bebas.

Terima kasih telah menggunakan fitur Smart Consultation Parenting Club. Semoga jawaban yang saya berikan dapat membantu. Jika ada keluhan atau kendala lainnya, silahkan menggunakan Smart Consultation Parenting Club lagi ya Mam.

Astrid WEN, M.Psi

Astrid WEN,M.Psi, Psikolog & Praktisi Theraplay adalah Psikolog lulusan Universitas Indonesia dengan pengalaman praktek 10 tahun dan mengambil spesialisasi Theraplay dari The Theraplay Institute, Chicago. Saat ini aktif sebagai praktisi Theraplay pertama di I

ask Astrid WEN, M.Psi lihat detail
Hubungi Kami
Hubungi Kami di Parenting Club ID Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top