Psikolog

psikologi anak

By: sri wurdyaningsih

Detail: apa dampak psikologi anak untuk usia dibawah 5 tahun yang sering pindah sekolah?

Astrid WEN, M.Psi
Expert

Halo Mam Sri Wurdyaningsih, terima kasih atas pertanyaannya. Saya memahami apa yang Mam rasakan saat ini. Pertanyaan Mam termasuk dalam kesehatan Anak. Mam bisa menanyakan pertanyaan tersebut kepada Psikolog dari Parenting Club, yaitu Astrid WEN M.Psi.

Pada usia 3 - 4 tahun, seorang anak mulai bermain bersama dengan teman-temannya meskipun belum mencapai tujuan bermain bersama dan belum ada cara aturan bermainnya. Dibandingkan usia sebelumnya, pada usia ini anak menjadi lebih tertarik untuk bermain bersama dengan teman-temannya daripada bermain sendirian. Pada saat bermain bersama ini, mereka menyenangi bertukar mainan satu sama lain atau berbicara satu sama lain. Pada tahapan ini, mereka belajar kemampuan penting seperti kerjasama, penyelesaian masalah, dan kemampuan bahasa.

Pada usia 4 - 6 tahun, anak-anak mulai bermain berkelompok dan kerjasama dengan teman-temannya mulai terlihat. Pada kelompok bermain tersebut, kita dapat mengamati siapakah yang mengambil peran sebagai pemimpinnya, siapakah yang mengerjakan bagian tertentu. Pada saat-saat ini, mereka belajar kemampuan organisasional dan menjadi lebih matang secara emosi sesuai usianya. Masa ini memberikan pada anak kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dalam kelompok.

Jika si Kecil berpindah-pindah sekolah, kemungkinan besar ia akan menghabiskan banyak waktunya untuk mulai beradaptasi lagi pada lingkungan yang baru. Bisa menjadi sedikit yang diadaptasikan, tetapi bisa juga menjadi banyak yang perlu diadaptasikan pada saat ia berpindah sekolah. Waktu beradaptasi ini dapat menghilangkan waktu bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya; di saat usianya pertemanan sudah menjadi penting dan kebutuhan bersosialisasi dalam kelompok sudah menjadi hal yang menarik di matanya. Jika demikan, dampak yang mungkin muncul adalah: anak memunculkan masalah emosi dan atau masalah tingkah laku sebelum bersekolah atau saat di sekolah; seperti menjadi pemalu, membutuhkan waktu yang lama untuk mulai berinteraksi di sekolah, tidak mudah bergaul dengan teman-teman sebayanya, sendirian saat di sekolah, atau ketergantungan pada orangtua, dll..

Apakah alasan si Kecil berpindah-pindah sekolah? Jika saya bisa mengetahui alasannya, saya mungkin akan bisa memberikan saran yang lebih tepat. Saya akan coba kemukakan beberapa alasan yang kira-kira mendasarinya ya..

• Jika si Kecil berpindah-pindah sekolah karena pekerjaan orangtua mengharuskan sebuah keluarga berpindah-pindah, tentu saja dalam situasi ini anak kemungkinan besar turut berpindah-pindah. Jika hal ini terjadi, Mam tidak perlu khawatir, selama kedua orangtuanya tetap memberikan waktu yang cukup dan banyak berinteraksi dan bermain dengannya, memenuhi kebutuhan emosional dan kebutuhan bondingnya; lalu orangtua bersama dengan anak juga meluangkan waktu untuk masuk ke dalam komunitas-komunitas sosial yang ada di tempat baru tersebut (bisa sekolah, bisa juga pertemuan para keluarga muda); maka hal-hal ini akan menguatkan akar anak untuk menjadi pribadi yang tetap mudah berelasi pada orang lain dan tidak takut bereksplorasi pada lingkungan yang baru.
• Perkenalkan si Kecil pada 1 -2 keluarga baru di tempat yang baru dan secara rutin per 1-2 minggu lakukanlah playdate bersama.
• Carilah sekolah yang menerima dia dengan terbuka dan hangat dengan disiplin/keteraturan yang baik, sehingga anak lebih mudah beradaptasi pada sekolah yang baru.
• Jika si Kecil berpindah-pindah sekolah karena ia takut, sering tidak cocok dengan sekolahnya, atau ia rentan di bully, maka hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Berpindah-pindah sekolah pada peristiwa ini tidak akan menghindarkan anak dari kejadian yang tidak menyenangkan. Jika hal ini terjadi, cek sekolah yang anak tempati apakah sekolahnya mendukung kemandirian anak secara positif dan juga menguatkan orangtua secara positif. Jika ya, cobalah tetap di sekolah tersebut dan mulai membuat strategi menguatkan keberanian dan kemandirian si Kecil, beberapa contoh misalnya:
• Banyak berinteraksi temu muka dengan anak dan memuji kemampuannya saat ia bisa pada waktu bermain
• Mempercayakan dirinya untuk melakukan hal-hal yang ia bisa, meski ia mengerjakannya secara lama atau berantakan. Hindari mengerjakan bagiannya. Tetap berikan pujian atau apresiasi pada proses pengerjaannya
• Meluangkan waktu untuk bermain di area publik ramah anak dan saat ia berinteraksi dengan anak-anak lain, biarkan dan awasi dari jarak pandang yang cukup. Jika ia melihat pada kita, kita berikan kontak mata dan senyuman pendukung untuk memberitahukan pesan padanya bahwa kita ada disitu memperhatikannya.

Terima kasih telah menggunakan fitur Smart Consultation Parenting Club. Semoga jawaban yang saya berikan dapat membantu. Jika ada keluhan atau kendala lainnya, silahkan menggunakan Smart Consultation Parenting Club lagi ya Mam.

Astrid WEN, M.Psi

Astrid WEN,M.Psi, Psikolog & Praktisi Theraplay adalah Psikolog lulusan Universitas Indonesia dengan pengalaman praktek 10 tahun dan mengambil spesialisasi Theraplay dari The Theraplay Institute, Chicago. Saat ini aktif sebagai praktisi Theraplay pertama di I

ask Astrid WEN, M.Psi lihat detail
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top