Psikolog

susah tidur malam

By: Fitri rahmadani Hamka

Detail: bismillah. dok saya mau bertanya soal anak saya yang selalu tidur diatas jam 10 malam. bagaimana saya bisa mengatasi dan memperbaiki jam tidurnya. yang kedua. anak saya lama tidurnya tapi lama juga bangunnya. seperti hari ini dia tertidur di jam 11 malam dan bangun di jam 9 pagi. saya kadang tidak membangunkan karena takut msalah psikologi anak saya yang akan terganggu karena tidurnya kurang. tapi saya juga mau membiasakan dia tuk tidur cepat dan bangun cepat. tpi semalam anak saya tidur di jam 9 dan bangun di jam 6.45 pagi. dan klo bangun dia biasanya masih senang berada di atas kasur. dan klo ditinggal sebentar dia langusng menangis. itu saya harus bagaimana yach dok? yang ketiga saya mau tanya soal perilaku anak saya. yang klo lagi jalan bersama trus ditinggal dengan jarak sedikit saja dia langsung membuang dirinya dan menangis. misalnya saya lagi jalan sama anak mau ke dapur, bgtu di dahului sedikit dia lagsung duduk dan menangis. itu bagaimana yach dok?

Astrid WEN, M.Psi
Expert

Halo Mam Fitri Rahmadani Hamka, terima kasih atas pertanyaannya. Saya memahami apa yang Mam rasakan saat ini. Pertanyaan Mam termasuk dalam kesehatan Anak. Mam bisa menanyakan pertanyaan tersebut kepada Psikolog dari Parenting Club, yaitu Astrid WEN M.Psi.

Karena saya tidak tahu usia anak Mam, berikut adalah pedoman umum kebutuhan tidur anak. Anak usia 1 - 3 tahun membutuhkan tidur malam sekitar 12-14 jam, anak usia 3 - 6 tahun membutuhkan tidur sekitar 10 - 12 jam, 7 - 12 tahun membutuhkan tidur 10 - 11 jam, dan remaja membutuhkan sekitar 8 - 9 jam per hari. Jika kebutuhan tidur anak cukup, dalam kesehariannya ia akan siap memberikan respon yang optimal kepada lingkungannya, bahkan dapat meminimalkan masalah tingkah laku atau masalah emosional yang dapat muncul hanya gara-gara kurang tidur.. Kebiasaan jadwal tidur yang teratur berperan dalam membentuk ritme tubuh, yang akhirnya membangun kemampuan regulasi diri anak.

Hal-hal yang dapat membantu terpenuhnya kebutuhan tidur anak Mam:
- Tentukan kapan disiplin waktu tidur anak yang paling realistis dilakukan di rumah. Apakah misalnya jam 9 malam? Jika sudah patok jam 9 malam adalah waktu tidurnya, maka kita akan mengusahakan hal ini menjadi cukup konsisten untuk dilakukan.
- Bangun kebiasaan sebelum tidur yang cukup teratur sekitar 30 menit - 1 jam sebelum waktu tidur, sehingga ia tahu bahwa jika ia mendapatkan kebiasaan-kebiasaan ini, artinya ia akan menjelang waktu tidur. Misalnya kebiasaan mengganti baju tidur, sikat gigi, mengoleskan lotion, membacakan cerita untuk anak, mendengarkan ceritanya, bernyanyi, berdoa, atau bermain dengan intensitas yang ringan dan lembut untuk membawa anak masuk dalam suasana tidur. Sentuhan seperti usapan atau tepukan yang dapat membantu anak tidur juga baik dilakukan.
- Hindari kebiasaan menonton TV atau gadget dalam rentang waktu satu jam sebelum tidur agar kondisi otak dan fisik anak cukup tenang untuk bersiap tidur.
- Cek ritme tidur anak. Setelah bangun, kurang lebih butuh waktu berapa lama ia masih membutuhkan waktu untuk benar-benar siap bangun. Disini kita juga dapat mulai mengajak dia mengobrol secara halus/ringan, memberikan waktu untuk dia lebih siap bangun sementara tidak jauh dari tempatnya kita melakukan kegiatan kita. Jika ia menangis saat kita meninggalkan dia, kita dapat menghadapi masalah ini secara ringan, menghadap dia dengan ekspresi wajah yang positif dan berkata, “oh kamu nangis ya, ada apakah? Hayuk bangun, sudah pagi. Mama senang sekali lihat kamu” sembari kasih pelukan sembari mengangkatnya, dapat ditambahkan sentuhan atau ciuman pada pipinya. Bawakan suasana yang segar terhadapnya. Jika ia masih menangis, kita dapat berikan timangan dan nyanyian yang membantu ia lebih tenang dan perlahan bawa dia keluar ruangan untuk dapat udara yang segar atau melihat dinamika pagi dalam keluarga yang akan membantu dirinya siap untuk beraktivitas.

Saat si Kecil merasa dirinya ditinggal oleh kita, lalu yang ia lakukan adalah duduk dan menangis. Kita dapat bertanya kepadanya, “Ada apakah? Kamu menangis. Apa yang buat kamu sedih?” Hal ini akan membantu dirinya untuk mengenal emosinya bahwa ia sedang menangis. Lalu jika kita tahu bahwa karena merasa dirinya ditinggal, kita dapat mengatakan, “Mam tidak tinggal kamu. Kamu mau berjalan bersama Mam? Hayuk kita berjalan bersama.” Lalu ajak dia jalan bersama dengan kita. Jika kita akan meninggalkan dia, kita dapat mengatakan, “Mam akan jalan duluan ya. Nanti kamu berjalan bersama Pap menyusul Mam.” Lalu meski ia menangis, jika Mam cukup yakin untuk meninggalkan dia dan memberikan tanda perpisahan seperti mencium dan mengucapkan “da-dah”, lalu nanti benar yang terjadi adalah ia akan berjalan bersama Pap dan menyusul Mam, Mam tidak perlu khawatir, perlahan ia akan belajar untuk mempercayai bahwa Mam tidak meninggalkan dirinya.

Terima kasih telah menggunakan fitur Smart Consultation Parenting Club. Semoga jawaban yang saya berikan dapat membantu. Jika ada keluhan atau kendala lainnya, silahkan menggunakan Smart Consultation Parenting Club lagi ya Mam.

Astrid WEN, M.Psi

Astrid WEN,M.Psi, Psikolog & Praktisi Theraplay adalah Psikolog lulusan Universitas Indonesia dengan pengalaman praktek 10 tahun dan mengambil spesialisasi Theraplay dari The Theraplay Institute, Chicago. Saat ini aktif sebagai praktisi Theraplay pertama di I

ask Astrid WEN, M.Psi lihat detail
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top