Kesehatan

Aku Ingin Segera Hamil!

By: dr Tirsa Verani Sp OG 2018-01-04 00:40:44 (UTC)
Memiliki buah hati adalah dambaan setiap pasangan suami istri, baik yang baru maupun telah lama menikah. Sayangnya, tidak sedikit pasangan suami istri yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan.
 
Berkat perkembangan teknologi kesehatan, saat ini tersedia banyak program hamil yang bisa dilakukan. Ini dia, beberapa di antaranya:
 
  1. Cara alami

    Dengan cara mengonsumsi cukup nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung kehamilan. Nutrisi menjadi faktor penting yang bisa memengaruhi kualitas sel telur dan sperma.

    Mengonsumsi buah yang menghasilkan minyak, seperti kelapa, buah zaitun dan alpukat, atau asupan lemak sehat lainnya, baik untuk meningkatkan kesuburan. Konsumsi protein yang cukup juga bisa meningkatkan kesuburan dan mengurangi risiko komplikasi ketika masa kehamilan.

  2. Terapi kesuburan

    Dengan cara mengonsumsi obat-obatan untuk merangsang terjadinya kehamilan. Biasanya, obat yang digunakan dalam program hamil adalah jenis obat yang berfungsi membantu melepaskan sel telur secara rutin, sehingga akan meningkatkan kesuburan pada wanita. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan obat ini harus sesuai anjuran dokter, agar program hamil bisa berjalan dengan lancar.

  3. Program inseminasi buatan

    Inseminasi buatan biasanya dianjurkan untuk wanita dengan tuba falopi yang tersumbat, usia reproduksi lanjut, pria dengan jumlah sperma yang rendah, atau ketidaksuburan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

    Inseminasi buatan adalah prosedur pemilihan sperma terbaik hasil ejakulasi, dengan cara pencucian sperma. Sperma yang sudah terpilih dilepas ke dalam mulut rahim melalui bantuan kateter. Dua pekan setelah proses inseminasi buatan dilakukan, pasien program ini harus datang untuk mengetahui keberhasilan prosedur tersebut.

  4. Program Bayi Tabung

    Adalah proses pengambilan sel telur matang dari wanita, lalu dipertemukan dengan sperma pasangan, agar terjadi pembuahan di luar tubuh. Pertemuan keduanya terjadi di cawan petri. Setelah sel telur dibuahi dan menjadi embrio, embrio ini dimasukkan ke dalam rahim ibu untuk berkembang menjadi bayi yang sempurna.

    Program bayi tabung tak tergantung siklus ovulasi. Akan tetapi, siklus tetap diperiksa agar dokter dapat mengambil sel telur matang untuk bisa dibuahi oleh sperma suami. Ini berbeda dengan inseminasi buatan, yang sangat bergantung pada waktu ovulasi ketika sperma pilihan ditanamkan ke dalam rahim. Proses bayi tabung lebih rumit ketimbang inseminasi buatan.


Perlu diingat, pemilihan program kehamilan harus sesuai dengan riwayat medis dan usia seseorang. Serta, perlu adanya pendampingan dari dokter kandungan, agar program hamil dapat berjalan sukses nantinya.
 
Pilih program yang sesuai dengan diri Mam dan Pap, serta berkonsultasilah dengan pakar medis untuk mendapatkan rekomendasi yang terbaik.
 
Referensi:
http://americanpregnancy.org/infertility/
https://www.mayoclinic.org/tests-procedures
https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/tc/fertility-problems-treatment-overview#1
Penulis
dr Tirsa Verani Sp OG

Dokter Tirsa Verani K. Oroh, Sp.OG lulus Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta dan Spesialis Obstetri dan Ginekologi atau Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran UI Jakarta. Aktif sebagai Controversies in Obstetrics, Gynecology dan Infertility

Kesehatan

Yang Perlu Diperhatikan Ibu Hamil Usia di atas 35 Tahun

By: Windi Teguh 2018-01-17 02:48:38 (UTC)
Terkadang kita tidak tahu kapan datangnya kehamilan. Bisa saja kehadiran si Kecil justru saat Mam sudah berusia di atas 35 tahun. Hamil di usia ini sah-sah saja, tapi Mam perlu membuat program hamil dengan ekstra hati-hati. Ini karena ada risiko kehamilan yang Mam harus ketahui dan waspadai. 

Memahami risiko yang mungkin terjadi akan membaut Mam lebih waspada. Ini juga membuat Mam dapat mengambil langkah-langkah preventif agar kehamilan tetap sehat dan menyenangkan.

Beberapa risiko kehamilan yang harus mam ketahui:

Conception blues 

Stress saat kehamilan rentan melanda Mam yang hamil setelah usia 35 tahun yang disebut conception blues. Di usia tersebut umumnya pasutri sudah mencoba berbagai cara untuk menghadirkan si Kecil. Ekspektasi yang tinggi bisa menimbulkan kekecewaan jika gagal.

Abnormalitas kondisi genetis 

Kehamilan di usia lanjut berisiko menyebabkan abnormalitas kondisi genetis terhadap si Kecil. Semakin tua usia seorang wanita, sel telurnya juga akan menua dan bisa menyebabkan pembelahan diri yang tidak sempurna. Hal paling umum terjadi adalah down syndrome, yang juga dapat menyebabkan kegagalan fungsi jantung serta berbagai organ lain.

Keguguran
 
Wanita yang berusia di atas 35 tahun berisiko mengalami keguguran. Hal ini terjadi karena  abnormalitas kromosom yang dapat menyebabkan fetus berguguran secara spontan.  Abnormalitas kromosom sangat mungkin terjadi jika Mam berusia di atas 35 tahun. Jika Mam merencanakan program hamil, lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.


Diabetes kehamilan atau tingginya kadar gula dalam darah (Diabetes Gestasional)

Penyakit ini muncul karena perubahan hormonal dalam tubuh yang menyebabkan kegagalan  menoleransi glukosa. Akibatnya adalah tingginya kadar glukosa dalam darah  selama kehamilan. Diabetes gestasional yang tidak diobati dapat menyebabkan bayi tumbuh lebih besar dan akan mempersulit proses kelahiran.

Praeeklampsia dan eklampsia atau tekanan darah tinggi 

Kehamilan usia lanjut berisiko lebih besar terkena praeklampsia. Hal ini bisa jadi karena Mam memiliki diabetes atau tekanan darah tinggi sebelum hamil. Praeklampsia adalah komplikasi serius yang menyebabkan darah tinggi, pembengkakan pada wajah dan tangan, serta adanya protein pada urin.

Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan kejang, stroke, serta komplikasi serius lainnya. Kondisi ini bisa jadi sangat berbahaya bagi si Kecil karena dapat mengurangi aliran darah dan nutrisi kepada janin melalui plasenta. 

Komplikasi plasenta menyebabkan pendarahan serius
 
Komplikasi plasenta cenderung terjadi lebih sering seiring bertambahnya usia. Hal yang  paling sering terjadi karena komplikasi ini adalah placenta previa. Dalam kasus ini,  plasenta menempel di bagian bawah rahim sehingga berpotensi menutupi jalan lahir. Hal  ini bisa menyebabkan pendarahan serius saat kelahiran yang berbahaya bagi Mam dan si Kecil. 

Lebih besar kemungkinan terjadi operasi caesar

Wanita yang sudah berusia lanjut cenderung lebih mudah mengalami tahapan persalinan  yang lebih lama. Ini karena serviks mungkin tidak dapat melebar dengan mudah dan dapat  menyebabkan fetal distress atau gejala gawat janin. Hal ini meningkatkan kemungkinan  penggunaan metode bantu kehamilan seperti foceps atau kelahiran normal dengan bantuan vacuum, atau bahkan dengan operasi caesar. Kemungkinan stillbirth atau kematian bayi di dalam kandungan juga lebih tinggi. 

Kelahiran lebih dari satu
 
Kemungkinan untuk memiliki anak kembar atau bahkan kembar tiga akan menjadi lebih  tinggi pada kehamilan usia lanjut, meski tidak menggunakan penambah kesuburan.  Bagi Mam yang ingin hamil tapi usia sudah di atas 35 tahun, harus memperhatikan risiko-risiko potensial ini. Walau banyak kasus kehamilan usia senja yang baik-baik saja, penting untuk mempersiapkan program hamil yang tepat dan pencegahanannya.

SOURCE
https://www.starthealthystayhealthy.in/risks-getting-pregnant-late
Penulis
Windi Teguh

Seorang ibu dari dua orang putri yang sehari-harinya bekerja di sebuah bank BUMN. Kini tinggal di Medan dan banyak menulis blog tentang pekerjaannya sebagai seorang bankir, kuliner Medan, lifestyle, dan tentu saja seputar dunia parenting.

Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top