Cara Mengasuh

Anak Susah Makan, Perlukah Vitamin Penambah Nafsu Makan?

By: Wyeth Nutrition 2019-05-14 00:57:22 (UTC)
Si Kecil Susah Makan, Perlukah Vitamin Penambah Nafsu Makan?
“Kok, kurus sih? Makannya gimana? Pasti susah makannya, deh. Kasih vitamin penambah nafsu makan aja biar lahap makannya.”

Mam, pernah gak ditanya seperti itu sama seseorang ketika melihat si Kecil yang memang terlihat kurus? Pertanyaan seperti itu kadang lebih terasa seperti menghakimi daripada bertanya. Bagi sebagian orang, anak gemuk terlihat lucu dan menggemaskan. Beberapa mempertanyakan ketika melihat si Kecil badannya kurus.

Mam menjadi semakin khawatir ketika si Kecil memang susah makan. Apakah asupan nutrisi si Kecil mencukupi? Kok, berat badannya cuma bertambah sedikit, ya? Bagaimana kalau si kecil sakit karena nafsu makannya kurang?

Berbagai pertanyaan langsung terlintas dan semakin membuat Mam khawatir. Apalagi, beberapa orang mulai menyarankan untuk memberikan si Kecil vitamin penambah nafsu makan. Mam pun mulai mempertimbangkan memberikannya kepada si Kecil.

Tunggu dulu, Mam. Sebaiknya jangan terburu-buru memberi vitamin untuk si Kecil. Kurus atau gemuknya si Kecil bukanlah tolok ukur yang mutlak dari segi kesehatan. Kurus bukan berarti sakit.

Salah satu cara termudah memang memantau dari kurva pertumbuhan berat badan yang bisa dilihat setiap bulan. Bila masih dalam kurva pertumbuhan normal, biasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Perhatikan pula kondisi fisik si Kecil. Apakah sinar mata si Kecil meredup, kulitnya terlihat kusam, dan lain sebagainya? Bila ada tanda-tanda seperti itu, Mam bisa berkonsultasi ke dokter anak untuk mencari penyebabnya.

Penyebab Si Kecil Susah Makan
Banyak faktor yang menyebabkan si Kecil kurang nafsu makan, belum tentu karena sakit. Belum tentu juga si Kecil membutuhkan vitamin. Ada baiknya Mam mulai mencari tahu penyebab ia susah makan.

1. Suasana Makan yang Tidak Menyenangkan
Suasana makan seharusnya menyenangkan. Namun, kadang Mam menjadi gemas karena si Kecil memilih-milih bahkan menolak makanan yang diberikan.

Mam juga mungkin memaksa si Kecil untuk tetap makan dengan cara mencekokinya.  Suasana pun menjadi kurang menyenangkan. Si Kecil mungkin akan menangis dan semakin menolak makan.

Solusi:
Harus sabar saat memberi makan si Kecil ya, Mam. Cobalah untuk membujuk si Kecil daripada memarahinya. Mam juga bisa bertanya kepada si Kecil bila ia sudah bisa melakukan komunikasi dua arah. Ciptakan suasana yang menyenangkan. Salah satunya dengan mengajak anak berimajinasi, misalnya berpura-pura kalau sendok adalah sebuah mobil yang bersiap parkir.

2. Bosan dengan Makanan
Si Kecil mungkin menolak makan karena merasa bosan. Apakah Mam selalu memberikan makanan yang sama? Mungkin Mam melihat si Kecil lahap ketika menyantap makanan tertentu sehingga hanya makanan tersebut yang paling sering disajikan.

Solusi:
Mam bisa memberikan jenis makanan yang lebih bervariasi. Hargai keinginan si Kecil. Misalnya, bila si Kecil sedang tidak ingin makan nasi, Mam bisa memberikan mi, pasta, atau kentang karena sama-sama karbohidrat.

3. Tidak Menyukai Makanan yang Diberikan
Si Kecil selalu mengeluarkan kembali makanan yang dimasukkan ke dalam mulut. Ketika diberikan lagi, mulutnya langsung ditutup menandakan tidak suka.

Solusi:
Anak usia 6 bulan yang baru saja selesai masa ASI Eksklusif dan sedang belajar makan. Karena itu, sebaiknya Mam tidak memaksakan si Kecil langsung lahap makan.
Mungkin lidahnya belum cocok dengan menu yang diberikan. Bisa juga si Kecil belum cocok dengan tekstur makanannya. Mam bisa memberikan makan dengan porsi sedikit dulu bila masih dalam tahap pengenalan.

4. Masih Merasa Kenyang
Idealnya frekuensi makan si Kecil adalah tiga kali makan makanan utama dan dua kali camilan. Namun, masih ada anak yang menolak padahal sudah diberikan makanan sesuai jadwal. Bisa jadi jadwal antara makan makanan utama dan camilan terlalu dekat. Si Kecil pun masih merasa kenyang saat waktu makan berikutnya.

Solusi:
Berusaha fleksibel dengan waktu makan. Bila si Kecil masih menolak makan, jangan langsung ditawarkan alternatif lain seperti susu atau camilan. Anak-anak juga perlu mengenal rasa lapar dan kenyang.

5. Kurang Memberikan Contoh
Mam merasa khawatir karena si Kecil memilih-milih makanan. Padahal, kalau mengikuti asupan gizi seimbang, seharusnya anak menyantap berbagai jenis makanan. Namun, apakah Mam atau Pap sudah memberikan contoh?

Solusi:
Anak akan dengan cepat mencontoh apa yang dilihat dari orang sekitar. Ajaklah si Kecil makan bersama-sama dengan keluarga. Tunjukkan bagaimana menyantap berbagai makanan dengan nikmat. Hindari memilih-milih makanan di depan si Kecil karena ia bisa saja menirunya.

6. Tidak Diberi Kesempatan Belajar Makan Sendiri
Pernahkah Bunda melarang saat si Kecil berusaha mengambil sendok makannya? Bila sendoknya diberikan, si Kecil akan memasukkannya ke dalam mulut. Namun, terkadang orang tua melarang hal ini dengan alasan nanti jadi berantakan.

Solusi:
Tentu awalnya si Kecil akan makan dengan berantakan jika diberi kesempatan untuk makan sendiri. Mam pun harus rela sedikit lebih repot membereskan bekas makan si Kecil. Namun, di balik kerepotan itu, si Kecil belajar untuk mandiri.

Awalnya mungkin berantakan, tapi lama-kelamaan juga si Kecil akan mahir belajar makan sendiri. Si Kecil pun akan merasa semangat karena diberi kesempatan untuk belajar. Bagi makanan menjadi dua porsi, satu porsi untuk si Kecil bereksplorasi, satu lagi untuk Mam suapkan ke si Kecil.

Ciri-Ciri Anak yang Butuh Suplemen Vitamin
Bila si Kecil terbiasa makan teratur dengan memenuhi asupan gizi seimbang, makan suplemen vitamin sudah tidak lagi dibutuhkan. Ini karena makanan yang dikonsumsi si Kecil sudah memenuhi kebutuhan gizi si Kecil untuk tumbuh kembangnya.

Memberikan suplemen vitamin nafsu makan anak bukanlah solusi. Lalu, kapan saat yang yang tepat memberikan vitamin kepada si Kecil?

1. Dalam Masa Penyembuhan
Jika si Kecil sedang sakit butuh, ia mungkin perlu suplemen vitamin untuk mempercepat masa penyembuhan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Namun, suplemen bukanlah pengganti obat. Tetaplah mengonsumsi obat sesuai anjuran yang diberikan dokter.

2. Si Kecil dengan Pola Makan Vegetarian
Beberapa anak ada yang menjalankan pola makan vegetarian. Namun, beberapa jenis nutrisi bisa dilewatkan bila menjalankan pola makan seperti ini. Bila nutrisi tersebut tidak dipenuhi bisa berpengaruh terhadap tumbuh kembang si Kecil. Contohnya adalah zat besi yang merupakan nutrisi untuk pembentukan sel darah merah.

Beberapa makanan tumbuhan juga ada mengandung zat besi, tetapi daya serapnya tidak sebagus zat besi yang berasal dari hewani. Si Kecil tidak perlu mengubah pola makannya. Hanya membutuhkan suplemen yang tepat untuk melengkapi asupan nutrisi karena tidak mengonsumsi makanan dari hewani.

3. Anak dengan Asupan Gizi Buruk atau Malanutrisi
Banyak hal yang bisa menyebabkan si Kecil mengalami kekurangan gizi.. Anak dengan gizi buruk butuh penanganan dokter untuk mengetahui apakah ada penyakit lain yang timbul karena masalah ini.

Suplemen vitamin dibutuhkan untuk mengoptimalkan dan mengejar ketertinggal si Kecil dalam hal tumbuh kembang akibat gizi buruk.

Pemberian Vitamin Nafsu Makan Anak
Suplemen vitamin bukanlah pengganti makanan. Sebelum memberikan suplemen, lebih baik Mam dan Pap berusaha memenuhi asupan nutrisi dengan cara yang lain dulu. Mam dan Pap juga harus mengetahui kelebihan dan kekurangan pemberian vitamin kepada si Kecil.

Jangan sampai maksud hati memberikan vitamin agar tumbuh kembang si Kecil optimal, malah menimbulkan masalah kesehatan baru. sebaiknya Mam berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan vitamin nafsu makan atau suplemen lainnya kepada si Kecil.

Suplemen vitamin untuk anak juga bisa dengan mudah didapatkan di pasaran. Perhatikan kandungan di dalam suplemen. Ada beberapa yang mengandung gula supaya rasanya manis, tetapi berpotensi membuat si Kecil terkena obesitas. Pertimbangkan juga faktor usia. Apakah suplemen yang diberikan memang cocok dikonsumsi untuk usia si Kecil.

Bentuk suplemen vitamin nafsu makan anak di pasaran tidak hanya cairan. Ada yang seperti permen sehingga semakin anak senang mengonsumsinya. Meski demikian, tetap jauhkan suplemen dari jangkauan si Kecil. Jangan sampai si Kecil mengkonsumsi sendiri secara berlebihan tanpa sepengetahuan orang tua.
 
Source:
chkd.org/blog/does-my-picky-eater-need-to-take-a-multivitamin-/
babycenter.com/0_how-to-handle-a-picky-eater_9199.bc
webmd.com/parenting/features/solutions-for-toddler-eating-problems#1
bloomnutritionstudio.com.au/does-your-fussy-eater-need-a-multivitamin/
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Kesehatan

Penyebab Diare pada Anak dan Cara Mengatasinya

By: Wyeth Nutrition 2019-05-14 00:29:06 (UTC)
Diare adalah penyakit yang bisa menjangkiti siapa saja, termasuk si Kecil, Mam. Tentu Mam tidak ingin terjadi sesuatu terhadap si Kecil. Namun, jika si Kecil terkena diare, Mam perlu tahu penyebabnya, seperti apa gejalanya, hingga penangannya.

Apa Itu Diare?
Diare adalah penyakit yang ditandai dengan buang air besar lembek atau cair yang berlangsung selama beberapa hari hingga seminggu. Diare sering diikuti demam, mual, muntah, kram, dan dehidrasi.

Bagaimana Kita Bisa Tahu saat Si Kecil Mengalami Diare?
Mam harus memperhatikan jika ada yang tidak beres pada si kecil. Waspada jika ia mulai buang air besar dengan kondisi berair dan buang kotoran lebih sering daripada biasanya. Ada kemungkinan si

Kecil sedang diare.

Penyebab Diare
Ada banyak kemungkinan penyebab diare, termasuk infeksi virus, bakteri, parasit, antibiotik, atau sesuatu yang dimakan si Kecil. Beberapa penyebab diare yang biasa terjadi antara lain:

1. Infeksi virus
Rotavirus, adenovirus, norovirus, dan astrovirus dapat menyebabkan diare selain muntah, sakit perut, demam, menggigil, dan rasa sakit. Inilah sebabnya si Kecil butuh imunisasi rotavirus Mam sebagai tindakan pencegahan.

2. Infeksi bakteri
Bakteri seperti salmonella, E.coli, campylobacter, atau staphylococcus, juga dapat menyebabkan diare. Jika si Kecil terkena infeksi bakteri, ia mungkin mengalami diare berat yang ditandai dengan kram pada perut, terdapat darah di tinja, dan demam. Pada beberapa anak mungkin akan menyebabkan muntah.

Sebagian besar infeksi bakteri hilang dengan sendirinya. Beberapa bakteri, seperti infeksi E.coli dari daging setengah matang atau sumber makanan lain bisa menjadi sangat serius. Jika si Kecil memiliki gejala infeksi bakteri, Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

3. Infeksi telinga
Dalam beberapa kasus, infeksi telinga (yang mungkin virus atau bakteri) dapat menyebabkan serangan diare. Diare karena infeksi telinga lebih sering terjadi pada anak dengan usia di bawah 2 tahun.

Dalam kasus ini, si Kecil mungkin sebelumnya baru pilek dan sekarang mengalami mual, muntah, dan nafsu makan memburuk.

4. Parasit
Infeksi parasit juga bisa menyebabkan diare. Giardiasis, misalnya, disebabkan parasit mikroskopis yang hidup di usus. Jika si Kecil mengalami diare akibat infeksi parasit, ia bisa buang air besar yang berisi cairan, kembung, gas, mual, dan kram. Jenis infeksi ini mudah menyebar dari satu anak ke anak lain, misalnya di sekolah atau saat si Kecil sedang di taman bermain.

5. Antibiotik
Diare juga bisa disebabkan antibiotik yang diminum si Kecil. Antibiotik bisa membunuh bakteri baik di usus sehingga menyebabkan bakteri jahat penyebab diare berkembang.

6. Terlalu banyak jus
Jus buah memang baik untuk si Kecil. Namun, konsumsi terlalu banyak jus buah (terutama varietas yang mengandung sorbitol) atau minuman manis dapat menghasilkan kotoran yang encer. Sebaiknya Mam membatasi konsumsi jus buah atau  minuman manis untuk si Kecil maksimal satu gelas kecil per hari.

7. Alergi makanan
Alergi makanan juga merupakan salah satu penyebab diare. Jika alergi terhadap makanan tertentu, sistem kekebalan si Kecil merespons protein makanan dengan cara yang dapat menyebabkan reaksi ringan atau berat, baik segera atau dalam beberapa jam. Alergen makan yang paling umum adalah susu sapi, telur, kacang, kedelai, gandum, kacang, ikan, dan kerang.

Gejala alergi makanan biasanya berupa diare, perut kembung, dan sakit perut. Dalam kasus lebih parah, alergi dapat menyebabkan muntah, gatal-gatal, ruam, bengkak, dan kesulitan bernapas.

8. Intoleransi Makanan
Tidak seperti alergi makanan, intoleransi makanan (kadang-kadang disebut sensitivitas makanan) adalah reaksi abnormal yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Salah satu contohnya adalah intoleransi laktosa.

Jika si kecil mengalami intoleransi laktosa, itu berarti tubuhnya tidak menghasilkan cukup laktase. Ini adalah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa (gula dalam susu sapi dan produk susu lainnya). Ketika laktosa tidak dicerna dengan baik di usus dapat menyebabkan diare, kram perut, kembung, dan gas. Gejala biasanya terlihat mulai 30 menit hingga dua jam setelah mengonsumsi produk susu.

9. Keracunan
Diare juga dapat disebabkan oleh keracunan makanan.

Gejala Diare
Mam sudah mengetahui apa saja penyebab diare yang bisa menyerang si Kecil. Mam juga harus tahu gejala-gejala diare sehingga bisa waspada dan cepat melakukan tindakan.
Diare biasanya hilang dalam beberapa hari, tetapi dapat menyebabkan komplikasi jika tidak segera ditangani dengan tepat. Gejala-gejala diare pada anak antara lain:
  • Feses lembek dan cair
  • Sakit perut
  • Kram perut
  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Kehilangan nafsu makan
  • Haus terus menerus
  • Demam
  • Dehidrasi
  • Darah pada feses
  • Feses yang dihasilkan banyak
  • Terus menerus ke toilet
Jika Si Kecil Terkena Diare

1. Berikan Cairan Jika, si Kecil menunjukkan gejala-gejala di atas, Mam bisa berkonsultasi dengan dokter untuk memberikan pertolongan pertama. Salah satu pertolongan pertama adalah dengan memberikan larutan elektrolit pediatric. Larutan ini tersedia di toko obat dalam berbagai rasa yang akan disukai si Kecil. Jus apel yang diencerkan dengan sedikit air juga bisa menjadi cairan penyelamat pertama yang bisa Mam berikan kepada si Kecil.

Jika si kecil masih menyusu, tetap berikan ASI selama ia diare. Selain larutan elektrolit dan jus apel yang diencerkan, yogurt juga bisa diberikan sebagai penyelamat pertama untuk diare. Namun, pastikan Mam memberikan yogurt yang mengandung lactobacillus.

Jika gejala diare sudah terlihat, untuk sementara sebaiknya hindari memberikan minuman manis kepada si Kecil, termasuk soda, jus buah murni, dan air gula. Ini karena gula dapat menarik air ke usus yang membuat kondisi si Kecil lebih buruk lagi.

Sebaiknya mam tidak memberikan obat antidiare tanpa rekomendasi dari dokter. Obat-obatan antidiare dewasa bisa saja berbahaya bagi si Kecil karena dosisnya kurang sesuai.

2. Tetap Berikan Makanan Padat Kebanyakan dokter menyarankan untuk terus memberi makan makanan padat kepada si Kecil, bahkan ketika ia mengalami diare. Makanan yang disarankan adalah yang mengandung karbohidrat kompleks seperti roti, sereal, dan nasi.

Selain karbohidrat, daging tanpa lemak, yogurt, buah-buahan, dan sayuran juga aman untuk dimakan. Asupan makanan yang sehat dapat membantu si Kecil mengatasi diarenya dan membantu mengembalikan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk melawan infeksi.

Biasanya si Kecil akan enggan makan saat sakit, bahkan cenderung menolak makanan. Jangan khawatir, Mam. selama ia tetap terhidrasi atau mendapat cukup cairan, Mam tidak perlu cemas. Nafsu makannya akan kembali dalam satu atau dua hari.

3. Perhatikan Popoknya Untuk si kecil yang masih batita dan masih menggunakan popok, pastikan pantatnya tetap kering. Sering cek popoknya, ganti jika basah dan gunakan krim popok saat mengganti popoknya. Ini untuk menghindari si Kecil mengalami iritasi karena pup yang encer dan sering.

Pencegahan
Agar si kecil tidak terkena diare, Mam bisa melakukan tindakan pencegahan sejak dini. Mencuci tangan secara teratur adalah pencegahan terbaik dari penularan mikroorganisme penyebab diare dari tangan ke mulut. Hal ini karena mikroorganisme yang menyebabkan diare dapat dengan mudah berpindah dari tangan ke mulut. Si kecil dapat terkena infeksi dengan memasukkan jarinya ke mulut setelah menyentuh mainan, atau benda lain yang telah terkontaminasi.

Ajarkan si Kecil mencuci tangan setidaknya 15 detik dengan sabun dan air hangat sebelum makan atau menyiapkan makanan, serta setelah menggunakan kamar mandi. Pastikan juga  Mam menggunakan peralatan memasak yang bersih.
 
Source:
webmd.com/children/guide/diarrhea-treatment#1
webmd.com/first-aid/diarrhea-treatment-in-children
babycenter.com/0_diarrhea-ages-3-to-8_65989.bc
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Load More
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top