Stimulasi

Apa Itu Sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial?

By: DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) 2018-11-08 00:51:58 (UTC)
Proses tumbuh kembang si Kecil berlangsung secara sistematis dan bertahap seiring dengan tahapan usianya, mulai sejak ia lahir hingga nanti berusia 18 tahun. Pada setiap tahapan usia, anak menunjukkan perubahan kemampuan yang berbeda untuk setiap aspek perkembangan. Pada bulan-bulan awal kehidupannya, kemampuan anak terbentuk dari sinergi berbagai pengalaman belajar yang ia ditangkap melalui beberapa indera utama, yaitu indera penglihatan, pendengaran, perabaan, dan penciuman. Seiring dengan pertumbuhan yang menjadikan tubuh anak anak semakin besar selama sekitar enam tahun pertama kehidupannya, maka kemampuan anak juga berkembang sebagai hasil sinergi antara aktivitas fisik dan interaksi dengan lingkungan sekitar, yang akan membentuk empat aspek perkembangan dasar, yaitu: gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian.
 
  1. Aspek Gerak Kasar 
Aspek gerak kasar adalah kemampuan anak untuk mengembangkan aktivitas yang menggunakan kekuatan otot-otot besar penyangga tubuhnya. Misalnya, tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, berlari, melompat, naik-turun tangga, dan sebagainya.
 
  1. Aspek Gerak Halus
Aspek gerak halus adalah kemampuan anak dalam hal mengembangkan keterampilan yang membutuhkan koordinasi antar otot-otot kecil, yang juga melibatkan berbagai fungsi indera. Misalnya, meraih mainan di depannya, memegang pensil, menulis, dan sebagainya.
 
  1. Aspek Bicara-Bahasa
Aspek bicara-bahasa merupakan keterpaduan antara kemampuan anak untuk memahami berbagai informasi yang didapatkan dari lingkungannya dengan kemampuannya untuk mengekspresikan ide dan keinginannya secara verbal atau melalui kata-kata. 
 
  1. Aspek Sosialisasi-Kemandirian
Aspek sosialisasi-kemandirian adalah kemampuan anak untuk mengembangkan berbagai aktivitas kemandirian sebagai hasil dari pengalaman berinteraksi sosial dengan lingkungannya. Misalnya, makan sendiri menggunakan sendok/garpu, cuci tangan, melepas/memakai baju sendiri, dan sebagainya.

Empat aspek dasar kemampuan anak tersebut tidak dapat berdiri sendiri, karena satu sama-lain akan saling terkait dan saling membutuhkan. Sinergisme antara keempat aspek dasar perkembangan si Kecil ini secara nyata dalam kehidupan sehari-hari akan nampak sebagai kepintaran anak dalam hal Akal, Fisik dan Sosial. Setiap anak mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mensinergikan keempat aspek dasar kemampuannya, sehingga setiap anak juga dapat menampakkan kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial yang berbeda-beda.

Mengapa diperlukan sinergi Akal, Fisik, dan Sosial?
Akal, merupakan cerminan dari kemampuan si Kecil dalam hal mensinergikan berbagai aspek perkembangan dasar menjadi sebuah cara untuk merespons rangsangan dari lingkungan sekitarnya, dan mengembangkan pemahaman yang akan dipergunakan sebagai cara untuk menyatakan ide dan keinginannya, serta mengembangkan berbagai alternatif strategi untuk mengatasi atau memecahkan masalah yang dihadapi.

Fisik, adalah kemampuan si Kecil untuk memadukan berbagai aspek perkembangan dasar yang membuatnya mampu untuk melakukan pergerakan tubuh atau aktifitas fisik yang sesuai dengan yang diinginkannya dengan menggunakan kekuatan dan keseimbangan tubuhnya, dan terkadang diperlukan keberanian. 

Sosial, merupakan hasil perpaduan berbagai aspek perkembangan dasar sehingga anak mampu mengembangkan kemampuannya dalam hal berinteraksi sosial dengan berbagai benda, mahluk hidup, atau individu di lingkungan sekitarnya. Kemampuan interaksi ini dapat berupa aktivitas meniru berbagai informasi yang dilihat atau didengar, atau dapat berupa komunikasi verbal dua arah.

Pembentukan dan pengembangan kepintaran  Akal, Fisik, dan Sosial melalui sebuah proses panjang yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan dan berdiri sendiri. Suatu jenis kepintaran tertentu, sangat membutuhkan dua kepintaran yang lainnya. Sehingga, seorang anak diharapkan tidak hanya menguasai salah satu jenis kepintaran tertentu, tetapi didukung untuk menguasai ketiga jenis kepintaran tersebut dengan seimbang dan sama baiknya. Hal tersebut dapat tercapai bila terjadi sinergi antara kepintaran  Akal, Fisik, dan Sosial. Sinergi antara ketiga jenis kepintaran ini akan membentuk dua kemampuan anak yang paling diinginkan orangtua secara jangka panjang, yakni: Kecerdasan yang cemerlang dan Perilaku yang baik. Penguasaan kepintaran  Akal, Fisik, dan Sosial yang tidak berjalan sinergi atau tidak seimbang akan menyebabkan perkembangan kepintaran tidak dapat seimbang dengan pembentukan perilaku.
 
Penulis
DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K)

Dokter Ahli Tumbuh Kembang Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Stimulasi

Yuk, Pantau Sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial Si Kecil

By: DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) 2018-11-08 01:08:34 (UTC)
Perjalanan tumbuh kembang anak sangat sulit untuk diramalkan hasil akhirnya. Seorang anak yang pada awalnya tidak menampakkan adanya faktor risiko untuk mengalami gangguan tumbuh kembang, akan tetapi ditengah perjalanan tumbuh kembangnya ternyata mengalami gangguan atau keterlambatan perkembangan. Atau sebaliknya, seorang anak yang semula menampakkan begitu banyak faktor risiko, ternyata dalam perjalanan tumbuh kembangnya dapat berkembang dengan baik dan normal.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sesungguhnya semua anak berisiko untuk mengalami gangguan tumbuh kembang. Untuk itulah dibutuhkan sebuah kegiatan deteksi dini melalui upaya pemantauan secara rutin dan kontinyu untuk dapat mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang secara dini. Keberhasilan penanganan gangguan atau keterlambatan tumbuh kembang anak sangat ditentukan sedini apa keterlambatan tumbuh kembang tersebut dapat terdeteksi. Semakin dini sebuah gangguan tumbuh kembang dapat ditemukan, maka semakin besar kemungkinan untuk dapat berhasil ditangani atau disembuhkan.

Agar sinergi Akal, Fisik, dan Sosial si Kecil berjalan optimal, ia perlu diberi stimulasi yang tepat. Memantau perkembangan Akal, Fisik, dan Sosialnya merupakan bagian penting dalam proses pemberian stimulasi lho, Mam. Kegiatan ini merupakan upaya untuk mengetahui apakah anak mempunyai kemampuan untuk memadukan semua aspek perkembangan dasar menjadi kepintaran bidang tertentu yang sesuai dengan tahapan usianya. Pemantauan hendaknya tidak hanya dilakukan untuk satu jenis kepintaran tertentu saja, tetapi harus dilakukan untuk ketiga jenis kepintaran tersebut secara komprehensif. Selain itu, pemantauan juga tidak hanya terfokus pada mampu atau tidaknya anak melakukan jenis kepintaran tertentu di usianya, tetapi juga hendaknya melakukan pemantauan seberapa besar sinergisme antar ketiga jenis kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial.

Memantau sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial yang dilakukan secara rutin dibutuhkan untuk mengetahui perubahan kemampuan anak di setiap tahapan usianya. Hal tersebut sangatlah penting karena kepintaran di usia awal akan membentuk kepintaran di usia selanjutnya. Apabila terjadi gangguan pada satu jenis kepintaran tertentu di usia-usia awal, maka anak akan sangat terancam tidak mampu untuk menguasai banyak kemampuan di usia selanjutnya. Perkembangan otak anak terjadi sangat cepat pada usia dua tahun pertama, sehingga pemantauan sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial hendaknya dilakukan secara intensif setiap bulan pada periode sejak lahir hingga usia 1 tahun, dan dilanjutkan 3 bulan sekali hingga anak mencapai usia 2 tahun. Kemudian, kegiatan pemantauan dianjurkan dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali sampai dengan anak mencapai usia 6 tahun.

Memantau sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial, dilakukan melalui pengamatan kemampuan anak selama kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak boleh dilakukan dengan cara memaksa seperti “menguji secara sengaja” pada waktu tertentu saja. Melainkan dilakukan pada saat berinteraksi dengan anak di setiap waktu. Misalnya, pada waktu bermain, pada waktu memandikan anak, pada waktu memberi makan, dan sebagainya.

Akan lebih baik jika Mam bisa mendokumentasikan hasil pantauan kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial si Kecil dalam catatan rutin yang sewaktu-waktu dapat dibaca kembali oleh Mam. Catatan ini juga bisa berupa buku KIA, KMS, atau bentuk lain yang mudah diakses. Melalui catatan hasil pemantauan secara rutin, orangtua akan mendapatkan informasi yang sangat penting mengenai tidak hanya tentang perkembangan kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial anaknya saja tetapi juga berbagai strategi stimulasi yang dapat dikembangkan secara personal dan spesifik untuk si Kecil.

Selain itu, catatan rutin tersebut juga berguna untuk memberikan informasi kepada tenaga medis, dokter, atau dokter ahli tumbuh kembang, bila suatu saat orangtua mencurigai adanya keterlambatan perkembangan. Catatan rutin tentang perkembangan anak akan sangat membantu dokter ahli menganalisis faktor penyebab dan menentukan strategi penanganan yang terbaik, serta berbagai upaya mengoptimalkan perkembangan anak supaya terhindar dari adanya gangguan tumbuh kembang di masa depan.
Penulis
DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K)

Dokter Ahli Tumbuh Kembang Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Load More
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top