Kesehatan

Dengan Positive Parenting, Tantrum Si Kecil Lebih Mudah Diatasi

By: Alia An Nadhiva 2016-09-27 01:13:33 (UTC)
Temper tantrum adalah letupan kekesalan atau kemarahan anak saat ia kesulitan menyampaikan maksud yang ada di benaknya atau karena keinginannya tidak dituruti. Anak yang mengalami tantrum biasanya terlihat frustrasi, lalu menangis dan berteriak. Bahkan, ia juga bisa melakukan tindakan-tindakan berlebihan seperti melempar barang ataupun menjatuhkan diri ke lantai.
 
Banyak orang tua menganggap sikap tantrum anak sebagai wujud kenakalan. Hal ini sebenarnya kurang tepat lho, Mam. Untuk dapat mempraktikkan cara mendidik anak yang baik, Mam perlu memahami terlebih dahulu penyebab timbulnya tantrum. Tantrum pada anak balita terjadi karena otaknya masih belum matang sempurna sehingga ia kesulitan mengutarakan perasaannya dan akhirnya bersikap impulsif. Tantrum biasanya mulai terjadi saat anak mencapai usia 2 tahun, dan dapat terus berlanjut hingga ia memasuki fase sekolah.
 
Saat si kecil sedang tantrum, mungkin saja orang tua hilang kesabaran dan emosinya terpancing. Namun, para ahli di American Academy of Pediatrics mengatakan, menghadapi anak tantrum dengan menerapkan metode disiplin yang keras justru tidak akan efektif untuk jangka panjang. Sebaliknya, cara mendidik anak yang baik adalah bila orang tua menerapkan teknik positive parenting dalam meredam perilaku tantrum. Positive parenting adalah pola pengasuhan anak yang menekankan pada sikap positif. Pada prinsipnya, melalui metode ini orang tua berusaha menerapkan pengasuhan dan kedisiplinan secara menyenangkan dan positif sehingga anak memiliki rasa percaya diri yang baik. Kepercayaan diri yang baik ini dapat membantu membentuk perilaku yang positif dan mengontrol emosi anak dengan baik.
 
Di bawah ini beberapa tips mengenai cara mendidik anak yang baik ala positive parenting yang dapat Mam lakukan pada anak usia 1-3 tahun.
  1. Fokus pada perilaku yang Mam ingin anak lakukan, alih-alih mengomelinya terus saat ia melakukan kesalahan. Saat ia melakukan kesalahan, Mam memang perlu menegurnya. Tetapi, jangan mengungkitnya terus-menerus ya, Mam. Pada dasarnya, anak usia batita memiliki keinginan untuk menyenangkan orang tuanya. Jadi, tinggal tunggu waktu saja sampai Mam melihat ia akhirnya menuruti permintaan Mam.
  2. Perlihatkan sikap yang baik. Setiap orang tua tentu ingin anaknya berperilaku baik. Namun, ada kalanya si kecil melawan ucapan Mam dan Pap. Hal ini wajar-wajar saja kok, Mam. Namun, jangan terpancing untuk memarahi dan memaksanya untuk menuruti ucapan Mam, ya. Bagaimanapun juga, memperlihatkan bagaimana sikap yang baik akan lebih efektif untuk ditiru anak dalam jangka panjang, ketimbang memarahi atau menyuruhnya berperilaku tertentu. Mengurangi frekuensi memarahi juga dapat menurunkan peluang anak untuk berperilaku negatif di kemudian hari.
  3. Limpahi si kecil dengan kasih sayang dan berikan perhatian yang cukup untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandiriannya.
  4. Bangun kedekatan emosional dengan si kecil. Salah satu caranya adalah dengan sering mengajaknya mengobrol dan mendengarkan ataupun merespon ocehannya. Jangan lupa untuk memujinya saat ia berhasil melakukan sesuatu yang Mam minta, ya.
  5. Tetap tenang dan tidak terpancing untuk ikut bersikap emosional saat anak mengalami episode tantrum. Dengan nada lembut, katakan pada si kecil bahwa sikapnya itu tidak baik dan ia perlu segera menghentikannya. Kalau anak tidak mau berhenti, ajak ia ke satu area yang lebih tenang dan mintalah untuk duduk di kursi atau sofa. Lalu, katakan bahwa ia akan terus duduk di situ sampai berhenti berteriak atau sampai ia mampu menenangkan dirinya. Terkadang, membiarkan anak sendiri namun tetap diawasi di tempat yang lebih sunyi dapat membuatnya kembali tenang.
Jadi, Mam tidak perlu khawatir lagi ya, bila si kecil mengalami tantrum. Ini adalah salah satu fase yang perlu ia lalui dalam masa pertumbuhannya. Cukup terapkan metode pengasuhan yang tepat untuk menanganinya agar tantrum tidak menjadi kebiasaan yang berlanjut hingga ia besar.
 
Sumber:
healthline.com/health/childrens-health/positive-parenting#1
positiveparentingconnection.net/tantrums/
kidshealth.org/en/parents/self-control.html?WT.ac=p-ra
female.kompas.com/read/2010/06/15/15343480/mendidik.anak.ala.positive.parenting
Penulis
Alia An Nadhiva

Setelah kelahiran putri pertamanya, Alia An Nadhiva memutuskan untuk memulai karier sebagai penulis freelance. Pengalamannya menjadi jurnalis di Majalah Good Housekeeping dan Prevention membuatnya semakin dekat dengan dunia kesehatan, hingga ia sering menulis artikel tentang modern parenting, nutrisi, kehamilan, dan kesehatan keluarga. Alia adalah lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Jurusan Ilmu Jurnalistik, dan kini tengah menetap di Tangerang Selatan bersama keluarga kecilnya.

Kesehatan

Berbagi Tugas, Harus Itu!

By: Wyeth Nutrition 2017-11-01 03:20:48 (UTC)
Keluarga itu ibarat tim. Kalau timnya kompak, pasti anak tumbuh sehat, mandiri,  dan bahagia. Nah, biar kompak, Mam dan Pap harus berbagi tugas baik dalam mengatur rumah tangga maupun mengasuh anak. Jangan pasrahkan semua urusan anak pada Mam saja, karena peran Pap juga tak kalah pentingnya. 
Berikut ini beberapa ide berbagi tugas yang bisa Mam & Pap terapkan:
  • Bikin aturan main terlebih dulu

    Sebelum menerapkan pada anak, sebaiknya Mam dan Pap membuat kesepakatan terlebih dulu mengenai aturan umum pengasuhan anak, seperti kapan jam tidur, waktu makan, bermain, dan belajar. Dengan begitu Mam dan Pap terlihat kompak di mata anak. 

  • Pembagian tugas yang jelas

    Mam dan Pap harus mendiskusikan pembagian tugas yang jelas, terutama yang menyangkut urusan rumah tangga. Bagi tugas dengan persetujuan bersama agar tidak ada yang merasa terbebani. Misalnya saja, setiap akhir pekan atau libur, Pap mendapat tambahan tugas mencuci piring. Atau setiap kali Mam lagi sibuk di dapur, Pap harus menemani si Kecil. Selain membantu Mam, Pap pun makin akrab dengan si Kecil.

  • Jaga sikap

    Anak adalah produk lingkungannya. Balita suka sekali meniru apa saja yang dilihatnya. Untuk itu Mam dan Pap harus kompak menjaga sikap, tutur kata, dan kalau perlu hilangkan kebiasaan buruk agar tak ditiru anak. 

  • Jadilah teman bermain yang asyik

    Dunia anak adalah bermain, maka jadilah teman bermain yang asyik. Mam dan pap bisa berbagi tugas menemani anak bermain. Misalnya, untuk urusan mainan cowok, seperti main PS atau mobil-mobilan, Mam bisa menyerahkannya pada Pap. Mam bisa nimbrung dengan membuatkan camilan yang lezat. Saat menonton tv, dampingi anak dan beri pengertian tentang acara yang ditontonnya. 

  • Mengajari anak mandiri

    Sikap mandiri penting sekali diajarkan sejak dini agar kelak anak tangguh menghadapi setiap masalah dalam kehidupannya. Mam dan Pap bisa berbagi tugas mengajari anak dengan melibatkan kegiatan di rumah. Bisa dimulai dengan membiasakan anak untuk merapikan kamar, mematikan lampu, dan  membereskan mainannya setelah selesai bermain.

 
 Agar tim di rumah tetap kompak, tambah wawasan Mam dan Pap dengan berkunjung ke sini
 
Sumber:
https://www.coparents.co.uk/blog/how-to-share-parenting-responsibilities/
http://www.parenting.com/news-break/working-parents-sharing-responsibilities-more-balancing-life-less
https://www.ourfamilywizard.com/blog/sharing-kids-and-parenting-responsibilities
http://raisingchildren.net.au/articles/parent_teamwork_skills_-_overview.html
https://www.empoweringparents.com/article/when-parents-disagree-10-ways-to-parent-as-a-team/
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top