Cara Mengasuh

Hal Ini Bantu Persiapkan Si Kecil Memasuki Jenjang Sekolah TK

By: Henni Puspita 2018-01-03 01:26:12 (UTC)
Bagi si Kecil, hari pertama sekolah bisa menjadi saat-saat yang mendebarkan. Sebagian anak menyambut hari pertama sekolah dengan riang namun ada juga yang merasa cemas. Sebagai orang tua, pasti Mam dan Pap juga merasa khawatir dan bertanya-tanya apakah si Kecil sudah siap menghadapi hari pertamanya di taman kanak-kanak (TK). Yuk, simak beberapa tips dan cara mengasuh yang bisa Mam dan Pap lakukan agar si Kecil siap memasuki masa sekolah TK dengan semangat.
  1. Beri gambaran tentang sekolah

    Jika Mam langsung membawa si Kecil ke sekolah pada hari pertama, tentu ia akan merasa kaget. Jadi, jauh sebelum hari pertama masuk sekolah, beri si Kecil gambaran tentang apa itu sekolah dan hal-hal menyenangkan apa saja yang bisa ia lakukan di sana. Ceritakan bahwa ia akan punya banyak teman baru untuk bermain dan belajar bersama. Katakan juga bahwa ia akan disukai teman-teman barunya.

  2. Ajak si Kecil membeli perlengkapan sekolah

    Si Kecil pasti senang jika diajak jalan-jalan untuk membeli perlengkapan sekolah, seperti buku, pensil, krayon, sepatu, dan tas. Biarkan ia memilih sendiri barang-barang yang disukainya asal harganya terjangkau. Di beberapa sekolah, murid tidak perlu membawa alat tulis karena sudah disediakan. Namun, tidak apa-apa karena si kecil bisa menggunakannya di rumah dan jadi lebih semangat belajar dengan benda-benda yang ia pilih sendiri. Mam dan Pap bisa mengajaknya bermain peran menjadi guru dan murid di rumah.

  3. Ajak si Kecil mengunjungi sekolahnya

    Sebelum hari pertama sekolah tiba, ajak si Kecil mengunjungi gedung sekolahnya. Sebisa mungkin bukan saat sekolah libur. Kegiatan ini bermanfaat untuk mengenalkannya pada suasana di sekolah. Ia bisa melihat anak-anak lain bermain dan bergembira. Sekalian ajak si Kecil mencoba berbagai permainan yang ada di sekolah supaya lebih bersemangat. Si Kecil juga bisa melihat-lihat ruang kelas yang kelak akan digunakannya.

  4. Ajak si kecil bertemu dengan guru sekolahnya

    Berinteraksi dengan anak lain biasanya lebih mudah dilakukan oleh si Kecil. Namun, si Kecil mungkin akan sungkan berinteraksi dengan orang dewasa lain yang belum dikenalnya. Cara mengasuh supaya si Kecil tidak merasa asing sebaiknya kenalkan si Kecil dengan gurunya sebelum sekolah dimulai. Jika ada orang dewasa yang dikenalnya, hari pertama sekolah tidak akan membuat si Kecil cemas.

    Baca: 5 Cara Dorong si Kecil Giat Pergi ke Sekolah[1] 

  5. Ceritakan pengalaman sekolah Mam

    Agar si Kecil lebih tenang dan bersemangat sekolah, ceritakan saat Mam pertama bersekolah dulu. Ceritakan permainan seru yang Mam lakukan bersama teman-teman atau guru favorit di sekolah. Ceritakan juga bahwa Mam memiliki banyak teman baik di sekolah dan menyukai apa yang diajarkan guru di sekolah. Dengan demikian, si Kecil akan memiliki gambaran yang baik tentang sekolah.

  6. Pastikan Mam selalu ada untuk si Kecil

    Meski demikian, bukan berarti Mam dan Pap harus menunggu si Kecil setiap saat. Beri pengertian dan yakinkan si Kecil bahwa Mam akan ada saat ia pulang sekolah. Pastikan Mam dan Pap selalu menjemputnya tepat waktu. Mam juga bisa memberi si Kecil pengertian bahwa guru adalah orang tuanya di sekolah, yang akan menyayangi dan melindunginya, juga menegur jika si Kecil berbuat yang tidak baik.

  7. Dengarkan cerita si Kecil

    Hari pertama sekolah adalah salah satu momen terbesar dalam hidup si Kecil. Karena itu, ia pasti punya banyak sekali cerita. Beri si Kecil perhatian penuh dan dengarkan ceritanya dengan sabar. Beri juga respons berupa pertanyaan seperti, “Siapa/apa yang membuatmu tertawa di sekolah hari ini?” atau “Dengan siapa kamu bermain waktu istirahat tadi?”

  8. Siapkan kemandirian si kecil

    Sebelum masuk sekolah, bukan hanya perlengkapan sekolah saja yang si Kecil perlukan, melainkan juga latihan kemandirian. Contoh cara mengasuh si Kecil dan melatih kemandiriannya misalnya belajar mandi sendiri, memakai baju, sarapan, menyiapkan bekal, memakai kaus kaki dan sepatu, hingga buang air sendiri. Belajar melakukan beberapa hal secara mandiri sebelum sekolah akan membuat si Kecil terbiasa dengan rutinitas baru dan akan menambah percaya dirinya.

 
Source:
starthealthystayhealthy.in/first-day-preschool-prepare-yourself-and-your-little-one
starthealthystayhealthy.in/preparing-your-child-preschool
starthealthystayhealthy.in/planning-your-babys-first-day-school
Penulis
Henni Puspita

Heni Puspita lahir dan besar di Bandar Lampung dan pernah tinggal di Manado. Pernah bekerja sebagai guru dan ia kini menetap di Bandar Lampung sebagai full time mother. Kesehariannya ia habiskan dengan bermain bersama anaknya dan memasak serta membagikannya dalam tulisan di blog pribadinya.

Cara Mengasuh

Anak Susah Makan, Perlukah Vitamin Penambah Nafsu Makan?

By: Wyeth Nutrition 2019-05-14 00:57:22 (UTC)
Si Kecil Susah Makan, Perlukah Vitamin Penambah Nafsu Makan?
“Kok, kurus sih? Makannya gimana? Pasti susah makannya, deh. Kasih vitamin penambah nafsu makan aja biar lahap makannya.”

Mam, pernah gak ditanya seperti itu sama seseorang ketika melihat si Kecil yang memang terlihat kurus? Pertanyaan seperti itu kadang lebih terasa seperti menghakimi daripada bertanya. Bagi sebagian orang, anak gemuk terlihat lucu dan menggemaskan. Beberapa mempertanyakan ketika melihat si Kecil badannya kurus.

Mam menjadi semakin khawatir ketika si Kecil memang susah makan. Apakah asupan nutrisi si Kecil mencukupi? Kok, berat badannya cuma bertambah sedikit, ya? Bagaimana kalau si kecil sakit karena nafsu makannya kurang?

Berbagai pertanyaan langsung terlintas dan semakin membuat Mam khawatir. Apalagi, beberapa orang mulai menyarankan untuk memberikan si Kecil vitamin penambah nafsu makan. Mam pun mulai mempertimbangkan memberikannya kepada si Kecil.

Tunggu dulu, Mam. Sebaiknya jangan terburu-buru memberi vitamin untuk si Kecil. Kurus atau gemuknya si Kecil bukanlah tolok ukur yang mutlak dari segi kesehatan. Kurus bukan berarti sakit.

Salah satu cara termudah memang memantau dari kurva pertumbuhan berat badan yang bisa dilihat setiap bulan. Bila masih dalam kurva pertumbuhan normal, biasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kesehatan dan tumbuh kembangnya.

Perhatikan pula kondisi fisik si Kecil. Apakah sinar mata si Kecil meredup, kulitnya terlihat kusam, dan lain sebagainya? Bila ada tanda-tanda seperti itu, Mam bisa berkonsultasi ke dokter anak untuk mencari penyebabnya.

Penyebab Si Kecil Susah Makan
Banyak faktor yang menyebabkan si Kecil kurang nafsu makan, belum tentu karena sakit. Belum tentu juga si Kecil membutuhkan vitamin. Ada baiknya Mam mulai mencari tahu penyebab ia susah makan.

1. Suasana Makan yang Tidak Menyenangkan
Suasana makan seharusnya menyenangkan. Namun, kadang Mam menjadi gemas karena si Kecil memilih-milih bahkan menolak makanan yang diberikan.

Mam juga mungkin memaksa si Kecil untuk tetap makan dengan cara mencekokinya.  Suasana pun menjadi kurang menyenangkan. Si Kecil mungkin akan menangis dan semakin menolak makan.

Solusi:
Harus sabar saat memberi makan si Kecil ya, Mam. Cobalah untuk membujuk si Kecil daripada memarahinya. Mam juga bisa bertanya kepada si Kecil bila ia sudah bisa melakukan komunikasi dua arah. Ciptakan suasana yang menyenangkan. Salah satunya dengan mengajak anak berimajinasi, misalnya berpura-pura kalau sendok adalah sebuah mobil yang bersiap parkir.

2. Bosan dengan Makanan
Si Kecil mungkin menolak makan karena merasa bosan. Apakah Mam selalu memberikan makanan yang sama? Mungkin Mam melihat si Kecil lahap ketika menyantap makanan tertentu sehingga hanya makanan tersebut yang paling sering disajikan.

Solusi:
Mam bisa memberikan jenis makanan yang lebih bervariasi. Hargai keinginan si Kecil. Misalnya, bila si Kecil sedang tidak ingin makan nasi, Mam bisa memberikan mi, pasta, atau kentang karena sama-sama karbohidrat.

3. Tidak Menyukai Makanan yang Diberikan
Si Kecil selalu mengeluarkan kembali makanan yang dimasukkan ke dalam mulut. Ketika diberikan lagi, mulutnya langsung ditutup menandakan tidak suka.

Solusi:
Anak usia 6 bulan yang baru saja selesai masa ASI Eksklusif dan sedang belajar makan. Karena itu, sebaiknya Mam tidak memaksakan si Kecil langsung lahap makan.
Mungkin lidahnya belum cocok dengan menu yang diberikan. Bisa juga si Kecil belum cocok dengan tekstur makanannya. Mam bisa memberikan makan dengan porsi sedikit dulu bila masih dalam tahap pengenalan.

4. Masih Merasa Kenyang
Idealnya frekuensi makan si Kecil adalah tiga kali makan makanan utama dan dua kali camilan. Namun, masih ada anak yang menolak padahal sudah diberikan makanan sesuai jadwal. Bisa jadi jadwal antara makan makanan utama dan camilan terlalu dekat. Si Kecil pun masih merasa kenyang saat waktu makan berikutnya.

Solusi:
Berusaha fleksibel dengan waktu makan. Bila si Kecil masih menolak makan, jangan langsung ditawarkan alternatif lain seperti susu atau camilan. Anak-anak juga perlu mengenal rasa lapar dan kenyang.

5. Kurang Memberikan Contoh
Mam merasa khawatir karena si Kecil memilih-milih makanan. Padahal, kalau mengikuti asupan gizi seimbang, seharusnya anak menyantap berbagai jenis makanan. Namun, apakah Mam atau Pap sudah memberikan contoh?

Solusi:
Anak akan dengan cepat mencontoh apa yang dilihat dari orang sekitar. Ajaklah si Kecil makan bersama-sama dengan keluarga. Tunjukkan bagaimana menyantap berbagai makanan dengan nikmat. Hindari memilih-milih makanan di depan si Kecil karena ia bisa saja menirunya.

6. Tidak Diberi Kesempatan Belajar Makan Sendiri
Pernahkah Bunda melarang saat si Kecil berusaha mengambil sendok makannya? Bila sendoknya diberikan, si Kecil akan memasukkannya ke dalam mulut. Namun, terkadang orang tua melarang hal ini dengan alasan nanti jadi berantakan.

Solusi:
Tentu awalnya si Kecil akan makan dengan berantakan jika diberi kesempatan untuk makan sendiri. Mam pun harus rela sedikit lebih repot membereskan bekas makan si Kecil. Namun, di balik kerepotan itu, si Kecil belajar untuk mandiri.

Awalnya mungkin berantakan, tapi lama-kelamaan juga si Kecil akan mahir belajar makan sendiri. Si Kecil pun akan merasa semangat karena diberi kesempatan untuk belajar. Bagi makanan menjadi dua porsi, satu porsi untuk si Kecil bereksplorasi, satu lagi untuk Mam suapkan ke si Kecil.

Ciri-Ciri Anak yang Butuh Suplemen Vitamin
Bila si Kecil terbiasa makan teratur dengan memenuhi asupan gizi seimbang, makan suplemen vitamin sudah tidak lagi dibutuhkan. Ini karena makanan yang dikonsumsi si Kecil sudah memenuhi kebutuhan gizi si Kecil untuk tumbuh kembangnya.

Memberikan suplemen vitamin nafsu makan anak bukanlah solusi. Lalu, kapan saat yang yang tepat memberikan vitamin kepada si Kecil?

1. Dalam Masa Penyembuhan
Jika si Kecil sedang sakit butuh, ia mungkin perlu suplemen vitamin untuk mempercepat masa penyembuhan dan meningkatkan sistem kekebalan tubuhnya. Namun, suplemen bukanlah pengganti obat. Tetaplah mengonsumsi obat sesuai anjuran yang diberikan dokter.

2. Si Kecil dengan Pola Makan Vegetarian
Beberapa anak ada yang menjalankan pola makan vegetarian. Namun, beberapa jenis nutrisi bisa dilewatkan bila menjalankan pola makan seperti ini. Bila nutrisi tersebut tidak dipenuhi bisa berpengaruh terhadap tumbuh kembang si Kecil. Contohnya adalah zat besi yang merupakan nutrisi untuk pembentukan sel darah merah.

Beberapa makanan tumbuhan juga ada mengandung zat besi, tetapi daya serapnya tidak sebagus zat besi yang berasal dari hewani. Si Kecil tidak perlu mengubah pola makannya. Hanya membutuhkan suplemen yang tepat untuk melengkapi asupan nutrisi karena tidak mengonsumsi makanan dari hewani.

3. Anak dengan Asupan Gizi Buruk atau Malanutrisi
Banyak hal yang bisa menyebabkan si Kecil mengalami kekurangan gizi.. Anak dengan gizi buruk butuh penanganan dokter untuk mengetahui apakah ada penyakit lain yang timbul karena masalah ini.

Suplemen vitamin dibutuhkan untuk mengoptimalkan dan mengejar ketertinggal si Kecil dalam hal tumbuh kembang akibat gizi buruk.

Pemberian Vitamin Nafsu Makan Anak
Suplemen vitamin bukanlah pengganti makanan. Sebelum memberikan suplemen, lebih baik Mam dan Pap berusaha memenuhi asupan nutrisi dengan cara yang lain dulu. Mam dan Pap juga harus mengetahui kelebihan dan kekurangan pemberian vitamin kepada si Kecil.

Jangan sampai maksud hati memberikan vitamin agar tumbuh kembang si Kecil optimal, malah menimbulkan masalah kesehatan baru. sebaiknya Mam berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan vitamin nafsu makan atau suplemen lainnya kepada si Kecil.

Suplemen vitamin untuk anak juga bisa dengan mudah didapatkan di pasaran. Perhatikan kandungan di dalam suplemen. Ada beberapa yang mengandung gula supaya rasanya manis, tetapi berpotensi membuat si Kecil terkena obesitas. Pertimbangkan juga faktor usia. Apakah suplemen yang diberikan memang cocok dikonsumsi untuk usia si Kecil.

Bentuk suplemen vitamin nafsu makan anak di pasaran tidak hanya cairan. Ada yang seperti permen sehingga semakin anak senang mengonsumsinya. Meski demikian, tetap jauhkan suplemen dari jangkauan si Kecil. Jangan sampai si Kecil mengkonsumsi sendiri secara berlebihan tanpa sepengetahuan orang tua.
 
Source:
chkd.org/blog/does-my-picky-eater-need-to-take-a-multivitamin-/
babycenter.com/0_how-to-handle-a-picky-eater_9199.bc
webmd.com/parenting/features/solutions-for-toddler-eating-problems#1
bloomnutritionstudio.com.au/does-your-fussy-eater-need-a-multivitamin/
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Load More
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top