Stimulasi

Ketika Si Kecil Bersikap Agresif

By: NITA SUSILAWATI 2016-10-20 10:58:03
Mam, apakah si Kecil suka menggigit atau memukul jika keinginannya tak terpenuhi? Menurut ilmu psikologi perkembangan anak, memang ada fase tertentu dimana anak akan menunjukkan prilaku agresif. Jadi, Mam tak perlu khawatir, karena hal ini tidak selalu menjadi pertanda bahwa anak mengalami gangguan sosial emosi. Namun tentunya perlu segera ditangani agar tidak berkelanjutan Supaya Mam dapat menyikapi sikap agresif si Kecil dengan baik, yuk, cari tahu kenapa pada saat tertentu si Kecil menunjukkan sikap agresif.  

Sulit Mengungkapkan Perasaan dan Pikiran
Tahukah Mam, karena di usianya dia masih mengalami kesulitan mengungkapkan perasaan atau pikirannya melalui kata-kata, mereka menyalurkan frustrasinya, yaitu rasa tidak nyaman dengan berprilaku agresif, seperti:
·         Menggigit
·         Memukul
·         Melempar barang
·         Marah dan berteriak
 
Rasa tidak nyaman yang dia rasakan ini biasanya muncul saat dia merasa mengantuk, lelah atau saat merasa terganggu dengan teman mainnya. Si Kecil berharap orang-orang di sekelilingnya menyadari dan mengerti apa yang dia inginkan.  

Fase Otonomi
Kalau menurut teori perkembangan psikososial  dari Erik Erikson, di usia ini anak juga berada dalam fase otonomi. Jadi, selain mengalami perkembangan motorik yang pesat, rasa ingin tahu mereka pun meningkat. Hal ini membuat si Kecil berusaha untuk menjelajah dunia sekitarnya sehingga ia tampak aktif, cenderung berperilaku impulsif, dan sesekali menunjukkan perilaku agresif.
Perilaku agresif ini muncul akibat cara mereka mengevaluasi waktu yang belum tepat, mereka hanya menilai berdasarkan cepat atau lambatnya keinginan mereka terpenuhi. Tak heran jika si Kecil bersikap agresif karena apa yang diinginkan tidak dipenuhi.

Perilaku Ini Perlu Dihentikan
Mam tentu ingin menjadi orangtua yang selalu mendukung keingintahuan anak dengan memberikan kesempatan pada si Kecil untuk bereksplorasi. Namun Mam juga harus tetap memberikan batasan-batasan yang jelas dan tegas. Jika si kecil  masih bersikap agresif, sebaiknya Mam melakukan hal berikut:  
  • Katakan ‘tidak’ dengan tegas dan minta ia mengungkapkan perasaan atau keinginannya lewat kata-kata.
  • Jika anak berprilaku agresif karena menginginkan sebuah benda, jangan izinkan. Apalagi jika ia berprilaku agresif pada anak lain. Pembiaran dapat membuatnya cenderung mengulangi hal yang sama.
  • Jika anak bersikap agresif untuk mendapat perhatian, alihkan perhatiannya untuk melakukan aktivitas lain.

Tentu bukan hal yang mudah menghadapi anak yang sedang bersikap agresif. Namun jika Mam selalu menanamkan batasan yang tegas sekaligus bersikap penuh perhatian saat dia merasa tidak nyaman, si Kecil akan paham bahwa sikap agresifnya bukanlah hal yang baik. (Penulis: Nita Susilawati)
 
 
Referensi:
  • Lerner C, Parlakian R. (2016). Aggressive Behavior in Toddlers. Diambil dari https://www.zerotothree.org/resources/16-aggressive-behavior-in-toddlers
  • McLeod, S. A. (2013). Erik Erikson. Diambil dari www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html
Penulis
NITA SUSILAWATI

Hal rutin yang dilakukan Nita Susilawati sebelum berangkat kerja adalah menyiapkan kebutuhan sekolah si Kecil dan mengantarkannya ke sekolah. Sebagai copy writer Pusat Kreatif Femina, Nita sudah menulis banyak artikel seputar anak dan balita. Kesibukan lain wanita yang tinggal di Bekasi ini adalah mengelola bisnis online ontologi dan komunitas crafting jelicraft bersama teman temannya.

Stimulasi

Ayo Nak, Kita Belajar Makan!

By: Wyeth Nutrition 2018-01-03 13:37:31
Ketika si Kecil memasuki usia enam bulan, setiap Mam dan Pap harus mulai memperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI). Seiring dengan pertumbuhan si Kecil, gizi yang dibutuhkan juga turut bertambah dan air susu ibu (ASI) saja tidak akan cukup. Bagi beberapa Mam dan Pap, memperkenalkan MPASI merupakan masa yang menyenangkan, tetapi untuk beberapa orang tua lain hal tersebut juga bisa menjadi begitu menegangkan.
 
Saat sudah melewati masa enam bulan ASI eksklusif, si Kecil perlu diperkenalkan pada makanan padat lainnya. Makanan yang tepat akan membantu pertumbuhan dan perkembangan dengan baik. Ini juga merupakan masa dimana si Kecil berada dalam fase pertumbuhan yang paling cepat sehingga membutuhkan nutrisi tinggi. Bisa dibilang, si Kecil siap untuk makanan pelengkap saat mereka bisa duduk tanpa dukungan dan memiliki kontrol kepala dan leher yang baik.
 
Kebutuhan gizi si Kecil yang semakin besar mungkin tidak sebanding dengan kemampuan perut mereka yang terbatas. Karena itulah mereka harus mendapat makanan bergizi yang seimbang untuk menopang pertumbuhannya. Makanan pendamping pun tidak berarti si Kecil berhenti meminum ASI. Makanan ini diperlukan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan gizi total dan jumlah yang bisa diberikan oleh ASI. Si Kecil yang mulai bertumbuh membutuhkan makanan yang relatif tinggi kalori atau energi bersama dengan jumlah protein, lemak, vitamin dan mineral yang seimbang.
 
Agar si Kecil tidak terlalu kaget dengan MPASI pertamanya, hal yang perlu Mam perhatikan adalah tekstur makanan. Karena jika sebelumnya si Kecil hanya mengonsumsi asupan berupa ASI yang berbentuk cairan, sekarang saatnya ia mencoba asupan berbentuk makanan padat. Selain itu, tahap ini adalah saat di mana si Kecil baru mengenal makanan dan belajar mengunyah untuk pertama kalinya. Oleh karena itu, tekstur makanannya harus dimulai dengan makanan yang lebih cenderung berbentuk cair, seperti bubur atau makanan lain yang dilumat sempurna.
 
Untuk jenis MPASI, Mam bisa mulai dengan memberikan bubur saring bertekstur halus yang terbuat dari beras, kedelai, atau buah-buahan. Namun, jangan lupa juga untuk tetap memerhatikan nutrisi yang terkandung dalam makanan. Di samping nutrisi dalam ASI, si Kecil membutuhkan zat besi, kalsium, vitamin C, vitamin A, vitamin D, dan asam lemak omega 3 untuk dapat bertumbuh kembang dengan baik. Pastikan Mam memberinya pilihan menu bubur untuk bayi enam bulan yang bergizi di awal perkenalannya dengan makanan padat.
 
Mulailah dengan satu jenis makanan setiap hari dan setiap kali si Kecil tidak terlalu lelah, lapar, atau rewel. Si Kecil mungkin tidak makan banyak pada awalnya, tapi beri dia waktu untuk membiasakan diri dengan pengalaman tersebut. Beberapa bayi perlu berlatih agar mau memasukkan makanan ke mulut dan menelannya.
 
Setiap bayi memiliki kebiasaan dan sifat yang berbeda, jadi bicarakan dengan dokter anak tentang makanan padat mana yang harus diperkenalkan dan kapan harus memulainya. Dengan mengetahui kebutuhan nutrisi yang tepat, Mam dan Pap bisa menunjang perkembangan si Kecil secara maksimal.
 
Sumber :
https://www.starthealthystayhealthy.in/introducing-foods-your-babys-diet
https://www.starthealthystayhealthy.in/e-learning/your-guide-starting-solids
https://www.babycenter.com/0_introducing-solids_113.bc
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top