Kesehatan

Menghitung Usia Kehamilan

By: dr Tirsa Verani Sp OG 2018-01-04 00:57:50 (UTC)
Menanti kehadiran si Kecil usai mendapat kabar positif hamil bak sebuah petualangan. Banyak hal yang perlu disiapkan, mulai dari menghitung usia kehamilan hingga memperkirakan waktu kelahiran.

Usia kehamilan perlu diketahui ya Mam, agar bisa menentukan asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh si Kecil saat masih dalam kandungan. Jadi, bila sudah merasa mual dan jadwal menstruasi berubah, maka ada baiknya Mam bersiap-siap memeriksakan kehamilan.
 
Ada tiga cara yang bisa dipilih untuk menentukan usia kehamilan, yaitu:
  1. Metode Hari Pertama Haid Terakhir atau HPHT

    Yaitu mengingat kapan waktu menstruasi terakhir dimulai. Tanggal dimulainya menstruasi terakhir itulah yang dipakai sebagai acuan hari pertama kehamilan Mom. Untuk mengetahui tanggal perkiraan kelahiran, bisa dihitung dengan cara menambahkan 40 minggu sejak HPHT. Perlu diingat bahwa HPHT bukan tanggal pasti terjadinya pembuahan. Meski waktu pembuahan dengan cara ini tidak bisa dipastikan, tetapi dapat diperkirakan bahwa pembuahan terjadi dua pekan setelah HPHT.

  2. Pita Ukur

    Cara ini membutuhkan bantuan dari dokter atau bidan. Penghitungan dilakukan dengan mengukur jarak dari tulang kemaluan hingga bagian rahim yang menonjol di perut. Hasilnya adalah usia kehamilan. Sebagai contoh, jika jarak yang didapat 15 sentimeter, maka usia kehamilan sudah mencapai 15 pekan. Sayangnya, metode ini tidak bisa dipastikan keakuratannya, karena jarak bisa berubah oleh beberapa hal.

  3. Alat Ultrasonografi atau USG

    Alat ini menggunakan teknik diagnostik pencitraan melalui suara, untuk bisa menampilkan gambar organ internal. USG memungkinkan dokter untuk menghitung dengan tepat ukuran janin, mulai dari atas hingga bawah. Dari ukuran ini, dapat diketahui berapa usia kandungan. Umumnya, pemeriksaan USG dilakukan beberapa kali, untuk memantau perkembangan janin dari awal hingga jelang melahirkan.


Setelah usia kehamilan diketahui, maka Mam dapat mulai mempersiapkan hal-hal lainnya yang dibutuhkan. Seperti memilih makanan yang sehat, mengurangi kegiatan hingga mempersiapkan semua keperluan si Kecil.
 
Referensi:
https://www.babycentre.co.uk/a549805/how-to-count-your-pregnancy-in-weeks-and-months
https://www.whattoexpect.com/pregnancy/pregnancy-health/calculating-due-date.aspx
Penulis
dr Tirsa Verani Sp OG

Dokter Tirsa Verani K. Oroh, Sp.OG lulus Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya Jakarta dan Spesialis Obstetri dan Ginekologi atau Kebidanan dan Kandungan Fakultas Kedokteran UI Jakarta. Aktif sebagai Controversies in Obstetrics, Gynecology dan Infertility

Kesehatan

Yang Perlu Diperhatikan Ibu Hamil Usia di atas 35 Tahun

By: Windi Teguh 2018-01-17 02:48:38 (UTC)
Terkadang kita tidak tahu kapan datangnya kehamilan. Bisa saja kehadiran si Kecil justru saat Mam sudah berusia di atas 35 tahun. Hamil di usia ini sah-sah saja, tapi Mam perlu membuat program hamil dengan ekstra hati-hati. Ini karena ada risiko kehamilan yang Mam harus ketahui dan waspadai. 

Memahami risiko yang mungkin terjadi akan membaut Mam lebih waspada. Ini juga membuat Mam dapat mengambil langkah-langkah preventif agar kehamilan tetap sehat dan menyenangkan.

Beberapa risiko kehamilan yang harus mam ketahui:

Conception blues 

Stress saat kehamilan rentan melanda Mam yang hamil setelah usia 35 tahun yang disebut conception blues. Di usia tersebut umumnya pasutri sudah mencoba berbagai cara untuk menghadirkan si Kecil. Ekspektasi yang tinggi bisa menimbulkan kekecewaan jika gagal.

Abnormalitas kondisi genetis 

Kehamilan di usia lanjut berisiko menyebabkan abnormalitas kondisi genetis terhadap si Kecil. Semakin tua usia seorang wanita, sel telurnya juga akan menua dan bisa menyebabkan pembelahan diri yang tidak sempurna. Hal paling umum terjadi adalah down syndrome, yang juga dapat menyebabkan kegagalan fungsi jantung serta berbagai organ lain.

Keguguran
 
Wanita yang berusia di atas 35 tahun berisiko mengalami keguguran. Hal ini terjadi karena  abnormalitas kromosom yang dapat menyebabkan fetus berguguran secara spontan.  Abnormalitas kromosom sangat mungkin terjadi jika Mam berusia di atas 35 tahun. Jika Mam merencanakan program hamil, lakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.


Diabetes kehamilan atau tingginya kadar gula dalam darah (Diabetes Gestasional)

Penyakit ini muncul karena perubahan hormonal dalam tubuh yang menyebabkan kegagalan  menoleransi glukosa. Akibatnya adalah tingginya kadar glukosa dalam darah  selama kehamilan. Diabetes gestasional yang tidak diobati dapat menyebabkan bayi tumbuh lebih besar dan akan mempersulit proses kelahiran.

Praeeklampsia dan eklampsia atau tekanan darah tinggi 

Kehamilan usia lanjut berisiko lebih besar terkena praeklampsia. Hal ini bisa jadi karena Mam memiliki diabetes atau tekanan darah tinggi sebelum hamil. Praeklampsia adalah komplikasi serius yang menyebabkan darah tinggi, pembengkakan pada wajah dan tangan, serta adanya protein pada urin.

Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan kejang, stroke, serta komplikasi serius lainnya. Kondisi ini bisa jadi sangat berbahaya bagi si Kecil karena dapat mengurangi aliran darah dan nutrisi kepada janin melalui plasenta. 

Komplikasi plasenta menyebabkan pendarahan serius
 
Komplikasi plasenta cenderung terjadi lebih sering seiring bertambahnya usia. Hal yang  paling sering terjadi karena komplikasi ini adalah placenta previa. Dalam kasus ini,  plasenta menempel di bagian bawah rahim sehingga berpotensi menutupi jalan lahir. Hal  ini bisa menyebabkan pendarahan serius saat kelahiran yang berbahaya bagi Mam dan si Kecil. 

Lebih besar kemungkinan terjadi operasi caesar

Wanita yang sudah berusia lanjut cenderung lebih mudah mengalami tahapan persalinan  yang lebih lama. Ini karena serviks mungkin tidak dapat melebar dengan mudah dan dapat  menyebabkan fetal distress atau gejala gawat janin. Hal ini meningkatkan kemungkinan  penggunaan metode bantu kehamilan seperti foceps atau kelahiran normal dengan bantuan vacuum, atau bahkan dengan operasi caesar. Kemungkinan stillbirth atau kematian bayi di dalam kandungan juga lebih tinggi. 

Kelahiran lebih dari satu
 
Kemungkinan untuk memiliki anak kembar atau bahkan kembar tiga akan menjadi lebih  tinggi pada kehamilan usia lanjut, meski tidak menggunakan penambah kesuburan.  Bagi Mam yang ingin hamil tapi usia sudah di atas 35 tahun, harus memperhatikan risiko-risiko potensial ini. Walau banyak kasus kehamilan usia senja yang baik-baik saja, penting untuk mempersiapkan program hamil yang tepat dan pencegahanannya.

SOURCE
https://www.starthealthystayhealthy.in/risks-getting-pregnant-late
Penulis
Windi Teguh

Seorang ibu dari dua orang putri yang sehari-harinya bekerja di sebuah bank BUMN. Kini tinggal di Medan dan banyak menulis blog tentang pekerjaannya sebagai seorang bankir, kuliner Medan, lifestyle, dan tentu saja seputar dunia parenting.

Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top