Tumbuh Kembang

Menyapih Anak dari ASI, Ini Tips Jitunya

By: Wyeth Nutrition 2019-05-14 00:39:38 (UTC)
Menyapih anak atau menghentikan anak dari ASI memang tidak mudah. Perlu beberapa persiapan agar Mam dan si Kecil sama-sama siap dan tidak melewati drama saat proses penyapihan.

Kadang si Kecil sebetulnya sudah siap untuk berhenti menyusu, tetapi Mam sendiri yang tidak rela karena takut kehilangan momen bonding. Mam juga mungkin takut merasa tidak dibutuhkan lagi setelah si Kecil berhenti menyusu.

Jangan khawatir, Mam. Banyak cara untuk tetap bonding dengan si Kecil meski sudah disapih. Kini Mam bisa menemukan cara lain untuk menenangkan si Kecil saat ia rewel seperti memeluk, bernyanyi, atau membacakannya buku cerita.

Waktu Menyapih Anak yang Tepat
Tidak ada waktu yang paling tepat atau paling benar untuk menyapih anak dari ASI. Keputusan berada di tangan Mam dan tidak ada alasan khusus tentang seberapa lama anak sebaiknya disusui.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan para ibu untuk menyusui minimal satu tahun. Bahkan, Mam disarankan untuk menyusui lebih lama lagi jika bayi masih menginginkannya dan Mam masih sanggup menyusui.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan ASI eksklusif selama 6 bulan. Mam juga disarankan tetap memberikan ASI hingga si Kecil berusia 2 tahun untuk tumbuh kembang anak yang lebih optimal dan tidak mudah sakit.

Perhatikan juga usia anak saat akan disapih, jika masih di usia 6 bulan hingga sebelum 1 tahun, tandanya Mam harus menyiapkan susu formula. Ini karena di usia itu bayi belum siap makan.

Harus diingat ketika memberikan susu formula dengan dot, Mam suatu hari akan harus menyapihnya juga dari dot. Sebaiknya berikan ASI perah atau susu formula melalui gelas atau sippy cup.

Menyapih anak akan lebih mudah ketika anak sudah tidak tertarik menyusu dan memilih makan makanan lain. Banyak bayi yang memang sudah kehilangan keinginan menyusu dan lebih suka makan makanan keluarga sehingga menyapih pun jadi lebih gampang.

Ada pula bayi yang jadi sangat rewel ketika tidak diberi ASI. Jika sudah merasa sangat lelah dan tidak mampu lagi untuk selalu menyusui, Mam bisa memutuskan untuk mengurangi frekuensi menyusui sampai akhirnya berhenti total.

Jangan langsung berhenti total ya, Mam. Menghentikan susu tiba-tiba bisa jadi sangat traumatis bagi bayi dan bisa menyebabkan plugged duct atau saluran ASI tersumbat. Hal ini bisa menyebabkan demam tinggi pada ibu.

Cara Menyapih Anak dari ASI
Tidak ada cara menyapih anak dari ASI yang saklek dan bisa diikuti oleh semua ibu. Setiap ibu berbeda, anak juga merespons pada proses penyapihan dengan cara berbeda. Cara yang bisa dicoba adalah mengurangi jadwal menyusu. Perhatikan respons si Kecil ketika Mam mencoba mengganti ASI dengan susu formula atau susu sapi.

Setelah satu minggu, anak biasanya sudah terbiasa dengan jadwal menyusu yang sudah berkurang. Produksi ASI  pada payudara juga seharusnya sudah berkurang. Mam bisa menguranginya lagi hingga berhenti sama sekali.

Mam bisa menggunakan distraksi lain seperti bermain saat si Kecil minta menyusu. Pastikan juga si Kecil selalu kenyang sehingga tidak lapar dan tidak ada keinginan untuk menyusu lagi.

Hal tersulit biasanya menghentikan menyusui jelang waktu tidur. Anak sudah ada dalam kebiasaan ini seumur hidupnya sehingga wajar jika sulit dilepaskan. Akan ada beberapa hari bahkan beberapa minggu anak jadi kesulitan tidur dan jadi rewel. Itu merupakan hal yang wajar dan sebuah fase yang memang harus dilalui.

Jika anak sudah lebih besar dan bisa berkomunikasi dua arah, jangan lupa untuk memberitahunya, ya Mam! Ulangi terus kenapa ia harus berhenti menyusu untuk memudahkan si Kecil benar-benar berhenti.

Mam juga bisa membuat deadline dengan perjanjian. Misalnya Mam bisa menjanjikan pesta ulang tahun kalau si Kecil bisa berhenti menyusu. Ceritakan betapa serunya pesta ulang tahun dan ingatkan terus tentang syarat berhenti menyusu. Banyak Mam yang berhasil dengan cara seperti ini.

Jangan lupa minta dukungan keluarga, ya! Suami yang sigap menemani bermain saat anak rewel minta menyusu bisa jadi bantuan yang memudahkan proses menyapih.
Cara menyapih anak dari ASI ini bisa saja gagal ketika saat proses penyapihan, anak jatuh sakit. Anak sakit biasanya butuh cairan lebih banyak agar tidak dehidrasi sehingga mereka kembali sering menyusu.

Pastikan juga si Kecil tidak sedang menjalani perubahan lain. Balita hanya sanggup menghadapi perubahan satu per satu. Jadi jika ia baru selesai toilet training, Mam mungkin bisa menunda penyapihan hingga beberapa minggu ke depan.

Atau mungkin momennya bersamaan dengan keluarga baru pindah rumah, anak pindah daycare, atau Mam kembali bekerja di kantor biasanya proses menyapih jadi lebih sulit. Tunggu saja dulu dengan sabar. Cepat atau lambat, ia akan berhenti juga, kok.
 
Source:
babycenter.com/0_weaning-when-and-how-to-stop-breastfeeding_3272.bc
medicinenet.com/7_signs_its_time_to_wean_your_baby_from_breastfee/article.htm#what_are_the_best_foods_to_start_weaning_a_baby_with
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Kesehatan

Cara Memperbanyak dan Melancarkan ASI

By: Wyeth Nutrition 2019-05-14 00:17:29 (UTC)
Bagi para ibu yang baru memiliki anak, masalah seputar ASI terkadang memang menjadi peer pressure tersendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti, cukup tidak sih ASI saya? Berapa banyak bayi seharusnya minum ASI per hari? Sampai terkait kandungan ASI pun menjadi pertanyaan sendiri bagi Mam.

Pada masa awal setelah kelahiran si Kecil, mungkin produksi ASI Mam masih sedikit. Tidak perlu panik, Mam. Hal seperti itu memang wajar, kok. Ini karena kebutuhan ASI si Kecil juga masih sedikit.

Indikasi paling kelihatan apakah bayi mam mendapat cukup ASI adalah pertambahan berat badan dan tumbuh kembangnya dibandingkan kurva pertumbuhannya. Mam tidak perlu cemas kalau berat badan bayi Mam pada awal-awal setelah kelahiran malah menurun. Hal ini wajar terjadi pada usia 3-5 hari setelah kelahiran. Setelah 14 hari, biasanya berat badan si Kecil akan kembali bertambah.

Berikut beberapa hal yang harus Mam ketahui mengenai produksi ASI, sekaligus tips melancarkan dan memperbanyak ASI:

1. Susui Si Kecil Sesuai Kemauannya
Prinsip utama dalam pemberian ASI adalah supply dan demand. Semakin sering Mam menyusui, ASI pun akan semakin banyak. Rata-rata bayi akan menyusu setiap dua jam sekali. Namun, Mam tidak perlu berpatokan pada jadwal itu. Susuilah si Kecil setiap saat ia ingin menyusu, terutama di awal-awal setelah kelahirannya.

2. Susui Bergantian dari Satu Payudara ke Payudara Lain
Banyak mitos yang beredar payudara kanan berisi makanan, payudara kiri berisi minuman. Tidak seperti itu ya, Mam. Masing-masing payudara mengandung foremilk dan hindmilk. Foremilk adalah ASI yang keluar pada awal sesi menyusui, mengandung tinggi laktosa dan rendah lemak. Hindmilk adalah ASI yang keluar saat sesi menyusui akan berakhir. Kandungan lemaknya lebih tinggi dibandingkan foremilk.

Foremilk diibaratkan air putih yang dapat menghilangkan rasa haus pada bayi, memberikan energi, dan menstimulasi perkembangan otak. Hindmilk yang tinggi lemak berperan dalam pertumbuhan dan peningkatan berat badan bayi. Karena itu, sebaiknya Mam menyusui pada satu payudara, setelah itu berpindah ke payudara lainnya. Ini agar si Kecil kita tetap mendapat foremilk dan hindmilk saat menyusui.

3. Perlekatan
Agar si Kecil bisa mendapat asupan ASI cukup, perlekatannya harus baik, Mam. Perlekatan mulut bayi ke payudara Mam menjadi faktor penting agar ASI bisa mengalir sempurna ke mulut si Kecil.

Mam bisa mengetahui hal ini dengan melihat posisi mulut bayi di payudara, mulut bayi dalam kondisi terbuka, serta terlihat pergerakan rahang mulut bayi saat ia menelan.

4. Hormon Prolaktin dan Oksitosin
Dalam memproduksi ASI, ada dua hormon yang berperan penting, yaitu hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin untuk memproduksi ASI dari pabriknya. Hormon ini diproduksi kelenjar pituitari.

Ketika bayi menyusu, rangsangan sensorik dari puting payudara akan dikirim ke otak. Ini kemudian direspons dengan mengeluarkan hormon prolaktin yang akan kembali menuju payudara melalui aliran darah, serta merangsang sel-sel lain untuk memproduksi ASI.

Bila bayi kurang menyusu, jumlah prolaktin dapat menurun, dan produksi ASI pada payudara menjadi lebih sedikit. Hormon ini lebih banyak diproduksi pada malam hari. Menyusui pada malam hari bisa membantu Mam menjaga persediaan ASI untuk si Kecil. Karena itu, Mam jangan lewatkan sesi menyusui bayi pada malam hari, ya.

Setelah ASI diproduksi, untuk mengalirkannya dari payudara dibutuhkan hormon oksitosin. Hormon ini dipengaruhi kondisi psikologis Mam. Jika Mam merasa tenang, nyaman, dan bahagia, hormon akan berlimpah dan ASI pun akan mengalir lancar. Begitu juga sebaliknya.

Cara kerja hormon oksitosin ini sangat unik. Rangsangan dari isapan bayi saat menyusu akan diteruskan menuju hipotalamus di otak yang memproduksi hormon oksitosin. Selanjutnya, oksitosin akan memacu otot-otot halus di sekeliling alveoli untuk berkontraksi dan mengeluarkan ASI.

Proses inilah yang disebut let down reflex (LDR) atau refleks pengaliran ASI. Oksitosin bisa dihasilkan dengan cara membayangkan bayi, mendengar suaranya, menggendong, menyentuh, dan membangkitkan rasa percaya diri.

5. Let Down Reflex
Agar aliran ASI bisa lancar, Mam perlu menghadirkan LDR. ini tidak selalu muncul saat menyusui, jadi Mam juga tidak perlu khawatir kalau tidak merasakan LDR saat menyusui. Namun, LDR ini bisa diusahakan dengan berusaha menciptakan rasa nyaman dan rileks saat menyusui.

Mam bisa melakukannya dengan duduk di posisi yang nyaman, mendengarkan musik, atau sambil menyentuh dan mengusap-ngusap bayi. Jika Mam melakukan pumping dan tidak bersentuhan langsung dengan mulut bayi, LDR bisa dimunculkan dengan melihat foto atau video si Kecil saat pumping.

6. Cukup Minum dan Makan makanan Bergizi
Selama menyusui Mam akan merasa haus, karena itu penting bagi Mam untuk menjaga asupan cairan tubuh. Jangan sampai Mam mengalami dehidrasi karena malas beranjak dari tempat Mam menyusui. Sediakan selalu botol minuman di tempat Mam menyusui. Demikian juga dengan makanan.

Agar produktivitas ASI terjaga dan mengandung zat-zat yang baik untuk pertumbuhan si Kecil, Mam harus konsumsi makanan sehat, seimbang. Makanan yang dipercaya dapat menambah produksi ASI Mam di antaranya adalah jenis sayuran hijau. Sesuaikan dengan selera Mam untuk mengolahnya. Kacang-kacangan juga bagus untuk produksi ASI. Pastikan juga, Mam mengonsumsi buah ya mam.

7. Cukup Istirahat
Bagaimana pun Mam harus mengusahakan istirahat cukup. Usahakan sebisa mungkin saat bayi tidur, Mam juga ikut tidur. Atau bisa dengan minta Pap untuk bergantian menjaga si Kecil, saat Mam berisitirahat.

8. Lakukan Pemijatan
Melakukan pijat pada payudara juga dapat memperlancar aliran ASI. Lakukan pijatan lembut pada payudara Mam. Sambil menyusui, pijat payudara Mam di dekat dada dan kemudian sedikit lebih jauh ke arah puting, dan tunggu si Kecil sambil menelan. Pijat area lain dari payudara yang sama, dan tunggu saat si Kecil selesai menelan. Mam juga bisa melakukan pemijatan pada payudara saat mandi atau berendam dengan air hangat.

9. Hindari Obat-obatan
Selama masa menyusui, sebisa mungkin Mam menghindari konsumsi obat-obatan tanpa resep dokter. Beberapa kandungan dalam obat bisa memengaruhi produksi ASI di antaranya obat-obatan yang mengandung antihistamin, dekongestan, konstrasepsi hormonal yang mengandung estrogen. Selalu pastikan ke dokter dahulu sebelum Mam memutuskan mengonsumsi obat-obatan selama masa menyusui.

10. Dukungan Keluarga
Agar menyusui menjadi kegiatan yang membahagiakan, Mam perlu dukungan dari orang terdekat, terutama Pap. Saat ini, pengaruh media sosial bisa berdampak terhadap psikologis Mam. Hindari grup-grup atau perbincangan di media sosial yang bisa membuat Mam merasa down.

Setelah Mam melakukan hal-hal di atas, untuk memastikan si kecil cukup atau tidak menyusuinya, mam bisa melihat dari tanda –tanda berikut :

1. Pertambahan Berat Badan si Kecil
Bayi yang cukup ASI akan mengalami penambahan berat badan. Namun, pada hari-hari awal setelah dilahirkan, berat badan bayi akan cenderung menurun. Setelah 14 hari, berat badan si Kecil akan kembali seperti saat lahir. Tanda bayi cukup ASI adalah kenaikan 400 gram hingga 1 kg setiap bulannya.

2. Indikator Pee dan Pup
Bayi yang cukup menyusui akan buang air kecil setidaknya tujuh kali dalam 24 jam. Saat ia pup, perhatikan warnanya. Tinja bayi akan berwarna kuning dengan sedikit gumpalan yang tampak seperti susu kental. Bayi yang mendapat ASI eksklusif dapat buang air beberapa kali sehari atau hanya sekali dalam lima hari. Kedua situasi tersebut normal, Mam.

3. Gerakan Mulut Bayi saat Mengisap
Ini adalah salah satu cara instan untuk mengetahui apakah si Kecil minum ASI atau hanya melakukan gerakan menghisap tanpa mendapatkan ASI. Ketika ia menyusu, lihatlah bagian di antara leher dengan dagu.

Ketika ia menghisap, dagunya akan bergerak turun naik. Setelah beberapa kali turun naik, dagu akan terlihat turun lebih jauh ke bawah beberapa saat sebelum kembali lagi ke posisi semula. Jeda inilah yang menandakan si Kecil menenggak ASI.

Kenapa ada jeda tersebut? Gerakan naik turunnya dagu terjadi ketika si Kecil menstimulasi payudara dengan isapannya. Ketika dagu turun ke bawah dan berhenti beberapa saat, saat itulah ASI mengisi rongga mulutnya. Jadi, bila dagu si Kecil hanya turun naik tanpa ada jeda, berarti ia tidak menenggak ASI.

4. ASI Terlihat di Sekitar Mulut Bayi
Tidak semua Mam memiliki aliran ASI yang deras sehingga cara ini tidak berlaku untuk semua orang. Terkadang kita dapat melihat ASI pada sudut bibir bayi ketika ia sedang menyusu. Itulah tandanya ASI kita keluar saat ia mengisapnya.

5. Payudara yang Melunak
Bila mulai menyusui saat payudara terasa penuh, Mam akan merasakan payudara kosong, lunak, dan kempis setelah menyusui. Bila payudara tetap saja penuh, berarti si Kecil tidak meminum ASI.

Bila payudara terlalu keras si Kecil tidak dapat mengisapnya. Kompreslah payudara dengan handuk hangat lalu perahlah dengan jari-jari Mam. Setelah ASI keluar dan payudara agak lunak, bayi dapat mengisapnya.

6. Si Kecil Tertidur
Bayi baru lahir akan tertidur pulas saat kenyang menyusu. Lehernya langsung lunglai ke bahu Mam bila menggendongnya secara tegak. Ia akan bangun kembali dan menangis 2-3 jam kemudian setelah meminum ASI. begitu seterusnya hingga berusia beberapa bulan.

Semoga sukses menyusuinya ya, Mam. Ingat menyusui hanyalah salah satu step dalam perjalanan membesarkan si Kecil, jadi jangan dibawa stress ya, Mam.
 
Source:
babycenter.in/a1049926/traditional-remedies-to-increase-breastmilk-supply
webmd.com/parenting/baby/ss/slideshow-increase-milk-supply
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Load More
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top