Tumbuh Kembang

Sudahkah si Kecil mendapatkan imunisasi wajib?

By: DR Dr Rini Sekartini SpA K 2018-01-02 23:30:01 (UTC)
Imunisasi adalah proses pemberian vaksin yang sangat penting dalam perawatan kesehatan bayi. Oleh karena itu, para Mam dan Pap harus memastikan bahwa bayi mereka diberikan vaksinasi secara tepat waktu. Vaksinasi tertentu diberikan dalam dosis secara berkala dan mungkin perlu diulang, jika tidak lengkap.
Hal penting yang perlu Mam dan Pap ketahui mengenai imunisasi adalah manfaat jangka panjangnya untuk si Kecil. Dengan memperhatikan imunisasi jenis apa yang diberikan untuknya, kita dapat memastikan sejak dini bahwa si Kecil mendapatkan proteksi terbaik di tubuhnya.
Ada beberapa jenis imunisasi yang harus diberikan pada si Kecil. Pemerintah melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mewajibkan lima jenis vaksin bagi anak-anak Indonesia. Mam dan Pap harus memastikan bahwa si Kecil mendapatkan kelima vaksin wajib ini dan mengetahui saat yang tepat melakukan imunisasi untuk memberi perlindungan lebih maksimal.
 
  • BCG (Bacille Calmette-Guérin)

    Vaksin ini berfungsi untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau TB yaitu infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. TB paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain dan ditularkan dari orang ke orang. Pemberian vaksin ini dilakukan pada masa awal usia bayi.  Jika terlewatkan dan umur si Kecil sudah lebih dari tiga bulan, maka harus dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu. Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah di dalam tubuh si Kecil sudah terdapat bakteri penyebab TB atau tidak. BCG baru bisa diberikan, bila uji tuberkulin negatif.

  • Hepatitis B 

    Vaksin ini berguna untuk melindungi tubuh dari virus Hepatitis B, yang bisa menyebabkan kerusakan pada hati. Waktu pemberiannya adalah 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur dua bulan, lalu saat usia tiga dan empat bulan. Jarak antara pemberian pertama dengan kedua minimal empat minggu.

  • Polio 

    Manfaatnya adalah untuk melindungi tubuh dari virus polio, yang menyebabkan kelumpuhan. Vaksin ini  diberikan saat kunjungan pertama setelah lahir. Selanjutnya, vaksin ini diberikan sebanyak tiga kali, yakni saat si Kecil berumur dua, tiga, dan empat bulan. Pemberian vaksin ini harus diulang (boost) pada usia 18 bulan.

  • DTP (Diphteria, Tetanus, Pertussis)

    Manfaatnya adalah untuk mencegah tiga jenis penyakit, yaitu difteri (infeksi saluran pernapasan yang disebabkan  bakteri), tetanus (infeksi bakteri pada bagian tubuh yang terluka), dan pertusis (batuk rejan, biasanya berlangsung dalam waktu yang lama). Pertama kali diberikan saat bayi berumur dua bulan. Pemberian selanjutnya pada usia tiga dan empat bulan. Selanjutnya, ulangan DTP diberikan saat umur 18 bulan dan lima tahun. Pada usia 12 tahun, vaksin ini diberikan lagi.

  • Campak 

    Berguna untuk melindungi si Kecil dari penyakit campak yang disebabkan oleh virus. Vaksin ini pertama kali diberikan saat umur sembilan bulan. Campak kedua diberikan pada saat SD kelas satu (pada usia enam tahun).  Jika belum mendapat vaksin campak hingga umur sembilan bulan, si Kecil bisa diberikan vaksin kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (MMR atau Measles, Mumps, Rubella) di usia 15 bulan.

Saat Mam dan Pap memberi si Kecil imunisasi sesuai dengan waktu dan manfaatnya, ini akan memastikan bahwa imunisasi yang diterima bekerja sesuai dengan kapasitasnya, sehingga Mam dan Pap bisa merasa yakin bahwa si Kecil terhindar dari serangan virus atau penyakit yang berbahaya.
 
Sumber :
http://www.idai.or.id/cari?search=imunisasi+wajib&id=291&sisea_offset=10
https://www.starthealthystayhealthy.in/keeping-track-immunization
http://www.parenting.co.id/bayi/5+imunisasi+wajib+bagi+bayi
Penulis
DR Dr Rini Sekartini SpA K

Dokter Spesialis Anak Konsultan alumni Fakultas Kedokteran UI Jakarta dan saat ini praktek sebagai Konsultan Tumbuh Kembang Anak di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Tumbuh Kembang

Menyapih Anak dari ASI, Ini Tips Jitunya

By: Wyeth Nutrition 2019-05-14 00:39:38 (UTC)
Menyapih anak atau menghentikan anak dari ASI memang tidak mudah. Perlu beberapa persiapan agar Mam dan si Kecil sama-sama siap dan tidak melewati drama saat proses penyapihan.

Kadang si Kecil sebetulnya sudah siap untuk berhenti menyusu, tetapi Mam sendiri yang tidak rela karena takut kehilangan momen bonding. Mam juga mungkin takut merasa tidak dibutuhkan lagi setelah si Kecil berhenti menyusu.

Jangan khawatir, Mam. Banyak cara untuk tetap bonding dengan si Kecil meski sudah disapih. Kini Mam bisa menemukan cara lain untuk menenangkan si Kecil saat ia rewel seperti memeluk, bernyanyi, atau membacakannya buku cerita.

Waktu Menyapih Anak yang Tepat
Tidak ada waktu yang paling tepat atau paling benar untuk menyapih anak dari ASI. Keputusan berada di tangan Mam dan tidak ada alasan khusus tentang seberapa lama anak sebaiknya disusui.

American Academy of Pediatrics merekomendasikan para ibu untuk menyusui minimal satu tahun. Bahkan, Mam disarankan untuk menyusui lebih lama lagi jika bayi masih menginginkannya dan Mam masih sanggup menyusui.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyarankan ASI eksklusif selama 6 bulan. Mam juga disarankan tetap memberikan ASI hingga si Kecil berusia 2 tahun untuk tumbuh kembang anak yang lebih optimal dan tidak mudah sakit.

Perhatikan juga usia anak saat akan disapih, jika masih di usia 6 bulan hingga sebelum 1 tahun, tandanya Mam harus menyiapkan susu formula. Ini karena di usia itu bayi belum siap makan.

Harus diingat ketika memberikan susu formula dengan dot, Mam suatu hari akan harus menyapihnya juga dari dot. Sebaiknya berikan ASI perah atau susu formula melalui gelas atau sippy cup.

Menyapih anak akan lebih mudah ketika anak sudah tidak tertarik menyusu dan memilih makan makanan lain. Banyak bayi yang memang sudah kehilangan keinginan menyusu dan lebih suka makan makanan keluarga sehingga menyapih pun jadi lebih gampang.

Ada pula bayi yang jadi sangat rewel ketika tidak diberi ASI. Jika sudah merasa sangat lelah dan tidak mampu lagi untuk selalu menyusui, Mam bisa memutuskan untuk mengurangi frekuensi menyusui sampai akhirnya berhenti total.

Jangan langsung berhenti total ya, Mam. Menghentikan susu tiba-tiba bisa jadi sangat traumatis bagi bayi dan bisa menyebabkan plugged duct atau saluran ASI tersumbat. Hal ini bisa menyebabkan demam tinggi pada ibu.

Cara Menyapih Anak dari ASI
Tidak ada cara menyapih anak dari ASI yang saklek dan bisa diikuti oleh semua ibu. Setiap ibu berbeda, anak juga merespons pada proses penyapihan dengan cara berbeda. Cara yang bisa dicoba adalah mengurangi jadwal menyusu. Perhatikan respons si Kecil ketika Mam mencoba mengganti ASI dengan susu formula atau susu sapi.

Setelah satu minggu, anak biasanya sudah terbiasa dengan jadwal menyusu yang sudah berkurang. Produksi ASI  pada payudara juga seharusnya sudah berkurang. Mam bisa menguranginya lagi hingga berhenti sama sekali.

Mam bisa menggunakan distraksi lain seperti bermain saat si Kecil minta menyusu. Pastikan juga si Kecil selalu kenyang sehingga tidak lapar dan tidak ada keinginan untuk menyusu lagi.

Hal tersulit biasanya menghentikan menyusui jelang waktu tidur. Anak sudah ada dalam kebiasaan ini seumur hidupnya sehingga wajar jika sulit dilepaskan. Akan ada beberapa hari bahkan beberapa minggu anak jadi kesulitan tidur dan jadi rewel. Itu merupakan hal yang wajar dan sebuah fase yang memang harus dilalui.

Jika anak sudah lebih besar dan bisa berkomunikasi dua arah, jangan lupa untuk memberitahunya, ya Mam! Ulangi terus kenapa ia harus berhenti menyusu untuk memudahkan si Kecil benar-benar berhenti.

Mam juga bisa membuat deadline dengan perjanjian. Misalnya Mam bisa menjanjikan pesta ulang tahun kalau si Kecil bisa berhenti menyusu. Ceritakan betapa serunya pesta ulang tahun dan ingatkan terus tentang syarat berhenti menyusu. Banyak Mam yang berhasil dengan cara seperti ini.

Jangan lupa minta dukungan keluarga, ya! Suami yang sigap menemani bermain saat anak rewel minta menyusu bisa jadi bantuan yang memudahkan proses menyapih.
Cara menyapih anak dari ASI ini bisa saja gagal ketika saat proses penyapihan, anak jatuh sakit. Anak sakit biasanya butuh cairan lebih banyak agar tidak dehidrasi sehingga mereka kembali sering menyusu.

Pastikan juga si Kecil tidak sedang menjalani perubahan lain. Balita hanya sanggup menghadapi perubahan satu per satu. Jadi jika ia baru selesai toilet training, Mam mungkin bisa menunda penyapihan hingga beberapa minggu ke depan.

Atau mungkin momennya bersamaan dengan keluarga baru pindah rumah, anak pindah daycare, atau Mam kembali bekerja di kantor biasanya proses menyapih jadi lebih sulit. Tunggu saja dulu dengan sabar. Cepat atau lambat, ia akan berhenti juga, kok.
 
Source:
babycenter.com/0_weaning-when-and-how-to-stop-breastfeeding_3272.bc
medicinenet.com/7_signs_its_time_to_wean_your_baby_from_breastfee/article.htm#what_are_the_best_foods_to_start_weaning_a_baby_with
Penulis
Wyeth Nutrition

Wyeth Nutrition mengembangkan produk nutrisi berkualitas premium secara ilmiah untuk melengkapi nutrisi anak-anak. Sebagai pelopor nutrisi, Wyeth Nutrition memiliki misi untuk memberikan asupan dan dukungan nutrisi terbaik untuk kesehatan yang lebih baik. Selama lebih dari 100 tahun, Wyeth Nutrition terus meningkatkan penelitian ilmiah dan uji klinis serta standar keamanan manufaktur kelas dunia untuk memberikan solusi ilmiah dan membantu pertumbuhan anak-anak.

Load More
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top