Stimulasi

Tips Memberikan Stimulasi yang Tepat dan Benar

By: DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) 2018-11-07 20:55:52 (UTC)
Stimulasi dini yang diberikan kepada si Kecil ketika masih berusia dibawah 6 tahun, meskipun nampak mudah dan sederhana yang dilakukan melalui kegiatan interaktif selama mengasuh anak sehari-hari, ternyata tidak boleh diremehkan. Hal tersebut dikarenakan stimulasi dini akan membentuk proses perkembangan dan kerja otak anak. Sehingga, stimulasi yang diberikan kepada anak harus sesuai dengan tahapan perkembangan otak yang sesuai dengan usia anak saat itu.
Pemberian stimulasi dini yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangan otak anak dapat berakibat kegagalan membentuk sirkuit otak dan lebih jauh lagi dapat merusak tatanan sirkuit otak yang telah terbentuk sebelumnya. Untuk itu, orangtua hendaknya mengenal tata cara pemberian stimuasi dini yang baik dan benar, dalam hal jenis, bentuk, frekuensi, dan intensitas atau durasinya.
 
  • Stimulasi seperti apa yang baik bagi si Kecil? Jenis dan bentuk stimulasi yang dapat mengembangkan sirkuit otak adalah stimulasi yang berupa kegiatan interaktif “memberi dan menerima” bersama anak. Misalnya, berikan anak Anda sebuah senyuman, ketika dia membalasnya maka balaslah kembali senyuman tersebut. Kegiatan interaktif ini akan membuat otak anak mempunyai rangkaian sirkuit yang kompleks, baik dalam hal menerima informasi dan juga dalam hal cara merespons balik informasi tersebut. Jenis dan bentuk stimulasi yang interaktif membuat anak mempunyai daya kreativitas tinggi dan mampu mengembangkan berbagai ide sendiri.
 
  • Berapa lama stimulasi sebaiknya diberikan? Stimulasi dini juga hendaknya diberikan dalam intensitas dan durasi yang seimbang, dalam artian tidak boleh kurang dan juga tidak boleh berlebihan. Pemberian stimulasi yang diberikan dengan intensitas dan durasi yang kurang, tidak akan dapat membentuk sirkuit otak yang mencukupi supaya anak dapat menguasai kemampuan tertentu. Sebaliknya bila diberikan dalam jumlah yang berlebihan, maka sirkuit otak yang terbentuk tidak akan merata ke semua area otak anak. Untuk menghindari hal tersebut, maka pemberian stimulasi hendaknya dilakukan melalui kegiatan alami sehari-hari dengan cara bermain bersama anak yang menyenangkan, aman, dan tidak memaksa. Stimulasi bukanlah bertujuan untuk memaksa dan mempercepat anak untuk dapat menguasai kemampuan tertentu. Stimulasi lebih ditujukan untuk dapat mengenali kemampuan anak dan mendorong anak untuk melakukan sesuai dengan keinginan dan caranya sendiri.
 
  • Mengapa stimulasi perlu diberikan secara rutin? Satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan oleh orangtua untuk pemberian stimulasi dini kepada anak adalah bukan dalam hal seringnya frekuensi stimulasi tetapi lebih pada seberapa reguler stimulasi tersebut diberikan. Pemberian stimulasi yang reguler akan berdampak lebih positif dari pada pemberian stimulasi yang mempunyai durasi lama tetapi tidak reguler.
 
  • Bagaimana sebaiknya stimulasi diberikan? Dengan demikian, pemberian stimulasi yang baik dan benar membutuhkan kelekatan pengasuhan orangtua supaya dapat mengenali dengan baik dan tepat batas kemampuan anak saat itu, yang dapat diketahui orangtua melalui kegiatan deteksi dini atau pemantauan perkembangan anak secara rutin dan reguler.


Prinsip stimulasi dini yang baik dan benar:
1. Berlandaskan rasa cinta dan kasih sayang
2. Dengan cara yang menyenangkan dan tidak memaksa selama aktivitas pengasuhan alami sehari-hari
3. Menggunakan alat bantu permainan yang sederhana dan aman
4. Tidak membedakan antara anak laki-laki sama dengan anak perempuan
5. Diberikan bertahap sesuai usia anak dan sesuai tahapan perkembangan yang dikuasai anak saat itu.
6. Diberikan dengan frekuensi yang rutin dan reguler
7. Diberikan dalam bentuk dan jenis yang dapat mengembangkan semua jenis kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial secara seimbang.
8. Dilakukan penilaian keberhasilannya melalui kegiatan pemantauan perkembangan yang rutin, reguler, dan kontinyu. 
Penulis
DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K)

Dokter Ahli Tumbuh Kembang Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Stimulasi

Yuk, Pantau Sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial Si Kecil

By: DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) 2018-11-08 01:08:34 (UTC)
Perjalanan tumbuh kembang anak sangat sulit untuk diramalkan hasil akhirnya. Seorang anak yang pada awalnya tidak menampakkan adanya faktor risiko untuk mengalami gangguan tumbuh kembang, akan tetapi ditengah perjalanan tumbuh kembangnya ternyata mengalami gangguan atau keterlambatan perkembangan. Atau sebaliknya, seorang anak yang semula menampakkan begitu banyak faktor risiko, ternyata dalam perjalanan tumbuh kembangnya dapat berkembang dengan baik dan normal.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sesungguhnya semua anak berisiko untuk mengalami gangguan tumbuh kembang. Untuk itulah dibutuhkan sebuah kegiatan deteksi dini melalui upaya pemantauan secara rutin dan kontinyu untuk dapat mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang secara dini. Keberhasilan penanganan gangguan atau keterlambatan tumbuh kembang anak sangat ditentukan sedini apa keterlambatan tumbuh kembang tersebut dapat terdeteksi. Semakin dini sebuah gangguan tumbuh kembang dapat ditemukan, maka semakin besar kemungkinan untuk dapat berhasil ditangani atau disembuhkan.

Agar sinergi Akal, Fisik, dan Sosial si Kecil berjalan optimal, ia perlu diberi stimulasi yang tepat. Memantau perkembangan Akal, Fisik, dan Sosialnya merupakan bagian penting dalam proses pemberian stimulasi lho, Mam. Kegiatan ini merupakan upaya untuk mengetahui apakah anak mempunyai kemampuan untuk memadukan semua aspek perkembangan dasar menjadi kepintaran bidang tertentu yang sesuai dengan tahapan usianya. Pemantauan hendaknya tidak hanya dilakukan untuk satu jenis kepintaran tertentu saja, tetapi harus dilakukan untuk ketiga jenis kepintaran tersebut secara komprehensif. Selain itu, pemantauan juga tidak hanya terfokus pada mampu atau tidaknya anak melakukan jenis kepintaran tertentu di usianya, tetapi juga hendaknya melakukan pemantauan seberapa besar sinergisme antar ketiga jenis kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial.

Memantau sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial yang dilakukan secara rutin dibutuhkan untuk mengetahui perubahan kemampuan anak di setiap tahapan usianya. Hal tersebut sangatlah penting karena kepintaran di usia awal akan membentuk kepintaran di usia selanjutnya. Apabila terjadi gangguan pada satu jenis kepintaran tertentu di usia-usia awal, maka anak akan sangat terancam tidak mampu untuk menguasai banyak kemampuan di usia selanjutnya. Perkembangan otak anak terjadi sangat cepat pada usia dua tahun pertama, sehingga pemantauan sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial hendaknya dilakukan secara intensif setiap bulan pada periode sejak lahir hingga usia 1 tahun, dan dilanjutkan 3 bulan sekali hingga anak mencapai usia 2 tahun. Kemudian, kegiatan pemantauan dianjurkan dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali sampai dengan anak mencapai usia 6 tahun.

Memantau sinergisme Akal, Fisik, dan Sosial, dilakukan melalui pengamatan kemampuan anak selama kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini tidak boleh dilakukan dengan cara memaksa seperti “menguji secara sengaja” pada waktu tertentu saja. Melainkan dilakukan pada saat berinteraksi dengan anak di setiap waktu. Misalnya, pada waktu bermain, pada waktu memandikan anak, pada waktu memberi makan, dan sebagainya.

Akan lebih baik jika Mam bisa mendokumentasikan hasil pantauan kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial si Kecil dalam catatan rutin yang sewaktu-waktu dapat dibaca kembali oleh Mam. Catatan ini juga bisa berupa buku KIA, KMS, atau bentuk lain yang mudah diakses. Melalui catatan hasil pemantauan secara rutin, orangtua akan mendapatkan informasi yang sangat penting mengenai tidak hanya tentang perkembangan kepintaran Akal, Fisik, dan Sosial anaknya saja tetapi juga berbagai strategi stimulasi yang dapat dikembangkan secara personal dan spesifik untuk si Kecil.

Selain itu, catatan rutin tersebut juga berguna untuk memberikan informasi kepada tenaga medis, dokter, atau dokter ahli tumbuh kembang, bila suatu saat orangtua mencurigai adanya keterlambatan perkembangan. Catatan rutin tentang perkembangan anak akan sangat membantu dokter ahli menganalisis faktor penyebab dan menentukan strategi penanganan yang terbaik, serta berbagai upaya mengoptimalkan perkembangan anak supaya terhindar dari adanya gangguan tumbuh kembang di masa depan.
Penulis
DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K)

Dokter Ahli Tumbuh Kembang Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya

Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top