Tumbuh Kembang

Yuk, Mam Ajak Si Kecil Potty Training

By: Henni Puspita 2018-01-03 00:25:05 (UTC)
Tahukah Mam dan Pap, kemandirian sudah bisa dikenalkan kepada si Kecil sejak usia dini, lho. Salah satunya adalah dengan mengajarkan potty training. Berdasarkan fase tumbuh kembang, anak usia dua sampai tiga tahun sudah bisa memberitahu orang tuanya saat ingin pipis atau pup.

Tentu saja proses potty training ini bukan sesuatu yang instan. Perlu waktu, bimbingan, dan kesabaran orang tua dalam melatih si Kecil. Simak tips berikut yang bisa Mam terapkan supaya potty training menjadi lebih mudah.
  1. Perhatikan kesiapan si Kecil

    Proses potty training butuh kesiapan si Kecil baik secara emosi, fisik, dan psikis. Apa contoh tanda-tanda kesiapannya? Jika si Kecil bisa duduk tegak, popok atau celananya tetap kering dalam jangka 2 jam, bisa membuka celana sendiri, serta bisa berkomunikasi dan memahami perintah sederhana.

  2. Jangan mulai prosesnya bersamaan dengan menyapih

    Seperti yang sudah disinggung pada tips pertama, proses potty training butuh kesiapan emosi si Kecil. Jika Mam memulai potty training bersamaan dengan menyapih, si Kecil akan merasa kewalahan karena harus mengalami dua perubahan besar dalam hidupnya sekaligus. Otot kandung kemih biasanya mulai bisa dikendalikan saat anak berusia 18 bulan. Mam bisa memulai potty training saat si Kecil berusia 18 bulan dan mulai menyapihnya saat usianya 2 tahun, atau sebaliknya.

  3. Gunakan training pants

    Saat mengenakan popok, si Kecil tetap anteng setelah pipis karena urine terserap dan permukaan popok tetap kering. Jika tidak mau langsung melepas popok dengan alasan tidak ingin urine berceceran, Mam bisa memakaikan training pants dengan corak menarik. Dengan training pants, urine tidak akan berceceran. Si Kecil bisa merasakan sensasi basah dan dingin di permukaan training pants. Hal ini akan membuat si Kecil bisa belajar untuk tidak pipis di celana atau memberitahu Mam untuk ke kamar mandi saat ingin pipis.

  4. Gunakan celana dalam yang dilapisi handuk kecil

    Harga training pants memang cukup mahal, apalagi jika harus membeli dalam jumlah banyak. Namun, Mam bisa menghemat anggaran dengan membeli celana dalam anak-anak biasa dan handuk kecil. Mam hanya perlu menjahitkan handuk kecil yang sudah dilipat ke bagian dalam celana dalam anak-anak.

    Jika si Kecil pipis, urine terserap handuk dan tidak berceceran di lantai. Selain itu, Mam bisa menyemangati si Kecil dengan mengatakan anak besar belajar menggunakan celana dalam, bukan popok lagi. Apalagi, jika celana dalam tersebut bergambar tokoh kartun kesukaannya.

    Baca: Ciri-Ciri Perkembangan Akal, Fisik, dan Sosial Anak Usia 2 Tahun

  5. Gunakan pispot, potty chair, atau potty seat

    Mam bisa langsung membiasakan si Kecil untuk pipis dan pup di kamar mandi. Gunakan alat bantu seperti pispot kecil, potty chair, atau potty seat supaya proses pipis dan pup lebih mudah. Sekarang banyak dijual pispot dan potty chair dengan aneka bentuk lucu. Demikian pula dengan potty seat, banyak corak yang pasti disukai si Kecil. Ajak si Kecil memilih sendiri alat bantu mana yang disukainya.

  6. Kenalkan proses pipis dan pup di kamar mandi

    Supaya si Kecil kelak terbiasa pipis dan pup di kamar mandi, kenalkan prosesnya mulai dari membuka celana, duduk, hingga menyiram toilet dan membersihkan alat kelamin. Mam juga bisa mengajarkan kepada si Kecil apa manfaat pipis dan pup di kamar mandi bagi tumbuh kembangnya.

    Jangan lupa mengajarkannya si Kecil cuci tangan sesudah pipis dan pup. Namun, hindari membuat kesan seolah kamar mandi tempat yang kotor atau menyeramkan ya, Mam. Kesan ini bisa membuat si Kecil enggan belajar pipis dan pup di kamar mandi.

  7. Bacakan buku cerita tentang potty training

    Kini banyak buku anak yang mengenalkan kemandirian lewat cerita yang sederhana, tapi mudah dicerna si Kecil. Banyak juga lho, buku tentang potty training yang bisa Mam dan Pap bacakan untuk si Kecil supaya ia lebih bersemangat.

  8. Mencatat waktu dan frekuensi pipis dan pup si kecil

    Mengamati dan mencatat siklus pipis dan pup si Kecil bisa memudahkan Mam dan Pap mengajaknya ke kamar mandi pada jam-jam tertentu. Selain itu, jangan lupa mengajak si Kecil ke kamar mandi sebelum tidur.

  9. Beri dukungan dan pujian

    Jika si Kecil masih sesekali mengompol, tidak perlu memarahi apalagi menghukumnya. Ini karena potty training bukan hanya menantang bagi orang tua, melainkan juga bagi si Kecil. Ia harus belajar merespons dan mengontrol otot tubuhnya untuk bisa berhasil. Ajak seluruh keluarga bekerja sama memberi si Kecil dukungan dan melatihnya dengan konsisten. Beri si Kecil pujian jika berhasil pipis dan pup di kamar mandi. Bila perlu, sesekali beri si Kecil hadiah kecil sebagai penyemangat, atau hiasi kamar mandi dengan stiker dinding lucu supaya ia bersemangat menjalani fase baru dalam proses tumbuh kembangnya.

 
Source:
starthealthystayhealthy.in/simple-and-effective-tips-potty-train-your-baby
starthealthystayhealthy.in/dos-and-donts-successful-potty-training
starthealthystayhealthy.in/complete-guide-potty-training-your-baby
Penulis
Henni Puspita

Heni Puspita lahir dan besar di Bandar Lampung dan pernah tinggal di Manado. Pernah bekerja sebagai guru dan ia kini menetap di Bandar Lampung sebagai full time mother. Kesehariannya ia habiskan dengan bermain bersama anaknya dan memasak serta membagikannya dalam tulisan di blog pribadinya.

Load More
Hubungi Kami
Hubungi Kami Hubungi Kami. Layanan Bebas Pulsa Senin sampai Sabtu (08.00-17.00) 0800 1821 526.
Go to Top